Abstrak
Penerapan Pertanyaan Pemantik untuk Mewujudkan Pembelajaran Bermakna Mata Pelajaran Sosiologi di SMA Al-Islam 1 Surakarta
Oleh :
Evita Rizki Kusuma - K8421015 - Fak. KIP
Studi ini bertujuan untuk (1) Untuk mengetahui strategi
guru sosiologi dalam menyusun pertanyaan pemantik di SMA Al-Islam 1 Surakarta,
(2) Untuk mengetahui bentuk-bentuk pertanyaan pemantik yang digunakan oleh guru
sosiologi SMA Al-Islam 1 Surakarta, (3) Untuk mengetahui dampak pertanyaan
pemantik bagi peserta didik dalam penerimaannya di SMA Al-Islam 1 Surakarta. Penelitian
ini merupakan penelitian kualitatif jenis deskriptif. Sumber data penelitian
ini meliputi informan (Guru Sosiologi
dan peserta didik kelas XI), tempat
dan peristiwa (ruang kelas XI yang dilengkapi dengan fasilitas LCD proyektor,
papan tulis, Wifi dan aktivitas pembelajaran yang berlangsung di SMA Al-Islam 1
Surakarta), dan arsip atau dokumen (salinan Permendikdasmen, perangkat
pembelajaran berupa RPM, CP, TP, ATP). Teknik
pengambilan sampel dilakukan
melalui nonprobability sampling
dengan purposive sampling. Pengumpulan data dilakukan
dengan teknik observasi, wawancara, dan dokumentasi. Teknik uji validitas
adalah triangulasi teknik dan sumber. Analisis data dengan menggunakan teknik Miles
dan Huberman. Hasil penelitian ini adalah sebagai berikut, Pertama, guru
membuat strategi dalam menyusun pertanyaan pemantik secara mandiri melalui
Rencana Pembelajaran Mendalam (RPM) mengacu pada Capaian Pembelajaran (CP),
Tujuan Pembelajaran (TP), dan Alur Tujuan Pembelajaran (ATP) sesuai
karakteristik peserta didik, menggunakan prinsip keberlanjutan materi, dan dengan
memenuhi indikator penilaian KSOP. Kedua, guru mengimplementasikan pembelajaran
bermakna melalui pertanyaan pemantik melalui bentuk-bentuk berbasis visual dan
pertanyaan reflektif berdasarkan pengalaman peserta didik. Ketiga,
pertanyaan pemantik memberikan dampak terhadap peserta didik berupa menggugah
minat dan kesiapan belajar, memacu rasa ingin tahu, mendorong berpikir kritis,
mengembangkan keterampilan dan keberanian dalam mengemukakan pendapat, memicu
lebih banyak pertanyaan, dan menguasai konsep awal dan mengingat kembali
pengetahuan awal. Dengan demikian, pembelajaran bermakna
dapat terwujud dengan menerapkan pertanyaan pemantik karena peserta didik mampu
mengaitkan pengetahuan awal dengan konsep baru. Hasil ini selaras dengan teori pembelajaran
bermakna Ausubel yang menekankan pentingnya keterkaitan struktur kognitif dalam
proses belajar.