Abstrak


PERAN SUTRADARA, DIRECTOR OF PHOTOGRAPY DAN EDITOR PADA PRODUKSI FILM DOKUMENTER “WEWARAH AJI SENGKOLO”


Oleh :
Trissiana Mutiara Sholawati - V1123137 - Sekolah Vokasi

Modernisasi di Kota Solo secara perlahan menggeser eksistensi jenang sengkolo menjadi sekadar komoditas konsumsi yang kehilangan jangkar spiritual dan nilai filosofisnya. Film dokumenter ekspositori "Wewarah Aji Sengkolo" ini diproduksi sebagai upaya retoris untuk merekam kembali memori kolektif kebudayaan Jawa tersebut kepada khalayak luas. Dalam penciptaan karya ini, penulis mengemban multi-peran sebagai Sutradara, Director of Photography (DOP), dan Editor.Melalui pendekatan modus ekspositori diharapkan karya ini mampu membangun struktur informasi dan argumen tepercaya mengenai makna bubur merah putih (jenang sengkolo). Secara teknis, konsep visual dikunci pada penggunaan palet warna warm & earthy tones dengan peningkatan temperatur kehangatan sebesar +15 untuk memperkuat atmosfer historis. Proses perekaman gambar dilakukan di tiga lokus utama Kota Solo, yaitu dapur tradisional, ritual Malam Satu Suro di Keraton Surakarta, dan ruang publik seperti Pasar Gede. Penulis sebagai sutradara bertugas menyatukan ide semua tim dan memiliki pemahaman menyeluruh tentang kepribadian tim yang ada dalam produksi. Pendapat Habert Zettl tentang sutradara adalah orang yang bertugas menyampaikan instruksi kepada aktor atau pemain dan prosedur operasi, bertanggungjawab dalam keberhasilan mengubah apa yang tertulis didalam naskah ke audio visual. Selain itu, sutradara harus berkoordinasi dengan semua peralatan, personel, dan sumber daya dari pra hingga pasca produksi (Cambrea, 2020).Penulis sebagai DOP (Director Of Photography) bertugas mengawasi kameraman serta bekerja sama dengan sutradara. Menurut Morissan dalam Saputra dan Arryadianta (2021) dari bidang audiovisual, DoP merupakan orang yang memakai alat produksi kamera, dan upaya juru kamera untuk merekam gambar lebih menjadi bermanfaat dan menyenangkan untuk ditayangkan. Bermula dari pemahaman DoP mengambil gambar dan merangkai (menghubungkan) cerita dalam naskah sehingga lengkap dan dapat dipahami editor. DoP tidak hanya bisa mengambil gambar yang bagus dan layak, tapi dia harus mengerti semua yang dibutuhkan dalam tayangan.Penulis sebagai editor bertugas dalam menangani audiovisual yang telah direkam. Dengan editing yang baik, film akan lebih terstruktur jika ditayangkan, dan akan lebih nyaman dinikmati seiring dengan alur cerita dan audio visual yang dibuat. Editor juga menambahkan effect dan musik latar belakang yang sudah terkumpul. Kemudian, editor harus mampu menyusun kembali potongan-potongan gambar yang diambil oleh campers selama produksi (Marsha, 2011). Pada tahap praproduksi hingga pascaproduksi, Penulis sebagai Sutradara, DOP dan Editor menerapkan alur cerita bertempo lambat (slow-paced rhythm) yang kontemplatif serta memanfaatkan teknik cinematic untuk menghadirkan estetika visual. Karya luaran berupa film dokumenter berdurasi 22 menit ini berhasil menegaskan bahwa tradisi Jenang Sengkolo mampu beradaptasi secara adaptif di ruang urban dengan tetap meruwat esensi spiritualitas asalnya.