Abstrak
Konstruksi Sosial Pengunjung Dalam Memaknai Ritual Padusan di Petirtaan Tirto Kamandanu Kediri
Oleh :
Budi Prasetiyo - K8419015 - Fak. KIP
Masyarakat
Jawa dalam kehidupannya tidak pernah membeda-bedakan antara sikap
religius dan bukan sikap religius, serta menganggap interaksi sosial
sekaligus sikap terhadap alam maupun
sebaliknya memiliki relevansi sosial di dalamnya. Salah satunya tercermin dari dijalankannya
ritual padusan di Petirtaan Tirto Kamandanu yang berada di Desa Menang
Kabupaten Kediri. Penelitian yang ditulis ini menjabarkan terkait faktor yang mendorong pengunjung
melakukan ritual padusan di Petirtaan Tirto
Kamandanu serta konstruksi sosial pada ritual tersebut. Penelitian ini menggunakan metode pendekatan deskriptif kualitatif yang sumber datanya diperoleh melalui observasi
langsung, wawancara,
obervasi partisipasi, dan
dokumentasi serta menggunakan teori Konstruksi sosial Peter L. Berger untuk
membedah konstruksi sosial dari ritual padusan
di petirtaan tersebut. Berdasarkan hasil penelitian, didapatkan beberapa kesimpulan diantaranya ialah pertama Petirtaan Tirto Kamandanu berkaitan dengan mitos moksanya Sri Aji Jayabaya dan
kemudian dibangun ulang lewat bantuan Yayasan Hondodento. Kedua, faktor yang
mendorong pengunjung datang diantaranya ialah faktor internal lewat sosialisasi
keluarga dan faktor eksternal melalui lembaga pendidikan formal dan pertemanan
di masyarakat. ketiga, konstruksi sosial yang dibangun dari ritual padusan di
Sendang tirto Kamandanu adalah sebagai sebuah bentuk keharusan untuk mensucikan
badan dan rohani sehingga dapat berkomunikasi dengan leluhur yang ada, dan
dengan cara tersebut mereka dapat meminta untuk diberikan ketenangan batin,
kesehatan, kekayaan, bahkan kelancaran dalam pekerjaan. Lebih lanjut lagi, teori konstruksi sosial yang
terdiri dari eksternalisasi, obyektivasi, dan internalisasi yang terdapat pada
ritual padusan tercermin dari sikap
yang menganggap bahwa nenek moyang mereka memiliki pengaruh dalam kehidupan
sehari-hari mereka, sehingga diperlukan sarana untuk berkomunikasi dengan
leluhur mereka dan dalam hal ini ialah ritual padusan. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa individu yang menjalankan ritual padusan memiliki keyakinan bahwa leluhur
mereka dapat dijadikan sebagai salah satu sarana membantu menjalani kehidupan
mereka, serta keyakinan bahwa kehidupan mereka memiliki kaitan dengan leluhur
yang bersemayam di tempat-tempat tertentu.