Abstrak


PERAN SUTRADARA PADA PRODUKSI FILM DOKUMENTER "ROTI KECIK"


Oleh :
Ririn Dewi Yahni - V1123127 - Sekolah Vokasi

Sebagai negara kepulauan yang sejak lama menjadi titik temu berbagai kelompok etnis, Indonesia menyimpan banyak jejak akulturasi budaya, salah satunya tercermin dalam roti kecik, produk roti kering khas Solo yang telah dipertahankan oleh Toko Roti Ganep's sejak tahun 1881 sebagai buah dari interaksi panjang antara etnis Tionghoa dan etnis Jawa di Surakarta. Berdasarkan hal tersebut, penulis mengangkat roti kecik sebagai tema Film Dokumenter "Roti Kecik", dengan tujuan menelusuri sejarah roti kecik, mengungkap proses akulturasi kuliner Tionghoa dan Jawa yang melekat di dalamnya, menghadirkan roti kecik sebagai simbol diplomasi budaya melalui pendekatan dokumenter, serta menempatkan peran sutradara sebagai pemimpin kreatif yang mengarahkan visi film sejak tahap praproduksi hingga pascaproduksi. Produksi film ini berlangsung melalui tiga tahapan utama. Pada tahap praproduksi, penulis selaku sutradara merumuskan konsep dan film statement, menyusun storyline, film treatment, shot list, serta shooting script, sekaligus menetapkan lokasi pengambilan gambar di sejumlah tempat, antara lain Pasar Gede Hardjonagoro, Kampung Sudiroprajan, Klenteng Tien Kok Sie, Keraton Surakarta Hadiningrat, dan Toko Roti Ganep's. Memasuki tahap produksi, sutradara bertugas mengarahkan pengambilan gambar, berkoordinasi dengan Director of Photography (DOP), memandu jalannya wawancara narasumber, serta mengarahkan rekonstruksi adegan sesuai naskah. Pada tahap pascaproduksi, sutradara mendampingi editor menyusun rough cut hingga fine cut, menyusun editing script, serta mengevaluasi hasil akhir agar tetap selaras dengan konsep awal. Produksi ini menghasilkan sebuah film dokumenter yang berhasil merepresentasikan roti kecik sebagai bentuk akulturasi kuliner yang melahirkan diplomasi budaya antara etnis Tionghoa dan etnis Jawa, sekaligus menegaskan sentralnya peran sutradara dalam menentukan kualitas naratif, visual, dan emosional sebuah karya dokumenter. Film ini membuktikan bahwa relasi antarbudaya dapat dibangun melalui kerja sama dan pewarisan tradisi, bukan semata melalui konflik, sekaligus menjadi bentuk nyata penerapan ilmu komunikasi terapan ke dalam karya audio-visual.