Abstrak
EVALUASI PENERAPAN PEMBELAJARAN FISIKA PADA PROGRAM INTERNATIONAL CLASS SMA BATIK 1 SURAKARTA DENGAN MODEL CIPP PADA TAHUN AJARAN 2025/2026
Oleh :
Novananda Syakira Eka Putri - K2322061 - Fak. KIP
Novananda Syakira Eka Putri.
K2322061. Pembimbing: Dr. Elvin Yusliana Ekawati, S.Pd., M.Pd. EVALUASI
PENERAPAN PEMBELAJARAN FISIKA PADA PROGRAM INTERNATIONAL CLASS SMA BATIK
1 SURAKARTA DENGAN MODEL CIPP PADA TAHUN AJARAN 2025/2026. Skripsi, Surakarta:
Program Studi Pendidikan Fisika, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan,
Universitas Sebelas Maret. April 2026.Penelitian ini bertujuan mengevaluasi penerapan pembelajaran
Fisika pada Program International Class (IC) di SMA Batik 1 Surakarta
tahun ajaran 2025/2026 dengan model CIPP (Context, Input, Process, Product).
Analisis mencakup: (1) kesesuaian latar belakang, tujuan, visi-misi,
karakteristik siswa, serta kondisi lingkungan dan kesiapan institusi (konteks);
(2) kesiapan kurikulum, fasilitas, sumber daya, serta perencanaan dan
pengelolaan program (masukan); (3) pelaksanaan pembelajaran meliputi interaksi,
hambatan, faktor pendukung, umpan balik, dan konsistensi penerapan kurikulum
(proses); serta (4) capaian hasil belajar, perkembangan kompetensi, dan
kontribusi program terhadap mutu institusi (produk). Penelitian ini menggunakan
pendekatan kualitatif deskriptif dengan metode evaluasi program model CIPP dan
dilaksanakan pada Juni 2025–April 2026. Sumber data meliputi kepala sekolah,
guru Fisika, koordinator program, dan siswa kelas X–XII pada International
Class. Sampel ditentukan melalui purposive sampling dan snowball
sampling. Data dikumpulkan melalui wawancara semi-terstruktur, observasi,
dan dokumentasi, dengan uji keabsahan melalui triangulasi sumber dan metode.
Analisis data menggunakan model interaktif Miles et al. (2014). Hasil menunjukkan bahwa
(1) aspek konteks relevan dengan kebutuhan pemangku kepentingan dan selaras
visi-misi, namun kesiapan institusi belum optimal, terutama belum adanya
laboratorium Fisika khusus IC, (2) aspek masukan tergolong baik melalui
integrasi kurikulum Merdeka dengan pendekatan deep learning, dan Cambridge,
serta pelatihan guru, meskipun terdapat variasi kesiapan awal siswa dan
keterbatasan praktikum, (3) aspek proses berjalan sesuai rencana dengan inquiry
learning dan problem-based learning serta umpan balik digital, namun
konsistensi penggunaan bahasa Inggris dan kualitas interaksi masih bervariasi,
(4) aspek produk menunjukkan seluruh siswa di program IC melampaui KKM dengan
rata-rata 82-88 dengan beragam prestasi akademik. Secara keseluruhan program
berjalan cukup baik, namun perlu peningkatan dari segi jumlah dan kualitas pada
fasilitas, konsistensi bahasa, dan variasi metode pembelajaran. Penelitian
selanjutnya disarankan untuk menggunakan instrumen terstandar dalam mengukur
kompetensi bilingual siswa, memperpanjang rentang waktu penelitian minimal satu
tahun penuh, serta melakukan studi komparatif dengan program serupa di sekolah
lain.