Abstrak
AKSESBILITAS PEMUSTAKA PENYANDANG DISABILITAS DI UPA PERPUSTAKAAN INSTITUT SENI INDONESIA (ISI) SURAKARTA
Oleh :
Fernando Sitanggang - V1023030 - Sekolah Vokasi
Fernando Sitanggang. V1023030. Aksesibilitas Pemustaka Penyandang
Disabilitas di UPA Perpustakaan Institut Seni Indonesia ISI Surakarta.
Tugas Akhir: Program Studi D3 Perpustakaan, Sekolah Vokasi, Universitas
Sebelas Maret, Surakarta, 2026.Perpustakaan sebagai pusat layanan informasi dituntut memberikan akses yang
setara bagi seluruh pemustaka, termasuk penyandang disabilitas. Berbagai
penelitian menunjukkan bahwa tingkat aksesibilitas perpustakaan di Indonesia
masih rendah dan belum sepenuhnya memenuhi standar internasional yang
ditetapkan oleh International Federation of Library Associations and Institutions
(IFLA). Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan teknik
pengumpulan data melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Analisis data
dilakukan melalui reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan.
Penelitian ini bertujuan menganalisis aksesibilitas pemustaka penyandang
disabilitas di UPA Perpustakaan Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta
berdasarkan IFLA Checklist (2005). IFLA Checklist digunakan sebagai pedoman
dalam mengkaji aksesibilitas perpustakaan melalui enam aspek, yaitu akses fisik,
akses informasi dan koleksi, teknologi adaptif, layanan dan kompetensi
pustakawan, kenyamanan dan keamanan, serta kebijakan dan dukungan layanan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 42 indikator yang diamati, sebanyak 14
indikator telah terpenuhi dan 28 indikator belum terpenuhi. Aspek teknologi
adaptif merupakan aspek dengan tingkat pemenuhan terendah karena seluruh
indikator belum terpenuhi, sedangkan aspek kenyamanan dan keamanan memiliki
tingkat pemenuhan tertinggi dengan 4 dari 5 indikator terpenuhi. Pada aspek
kebijakan dan dukungan layanan, hanya 1 dari 5 indikator yang telah terpenuhi.
Dapat disimpulkan bahwa aksesibilitas UPA Perpustakaan ISI Surakarta bagi
pemustaka penyandang disabilitas masih belum optimal. Oleh karena itu,
diperlukan pengembangan fasilitas fisik, penyediaan teknologi adaptif,
peningkatan kompetensi pustakawan, serta penguatan kebijakan dan dukungan
layanan disabilitas secara sistematis dan berkelanjutan.