Abstrak
Studi Lini Dasar Epidemi Moler di Brebes, Jawa Tengah
Oleh :
Salim Widono - T652002005 - Fak. Pertanian
Bawang merah merupakan salah komoditas hortikultura yang memiliki banyak
manfaat. Umbi bawang
merah tidak hanya digunakan sebagai bahan masakan, tetapi juga memiliki nilai
gizi yang baik untuk kesehatan tubuh.
Beberapa zat utama yang terkandung dalam umbi bawang merah, antara lain
karbohidrat, protein, vitamin, mineral, dan serat untuk membantu meningkatkan
pencernaan dan kesehatan pencernaan.
Berbagai senyawa bioaktif juga ditemukan dalam umbi bawang merah,
misalnya flavonoid merupakan senyawa antioksidan untuk membantu melindungi
tubuh dari radikal bebas dan memiliki sifat anti-inflamasi, saponin untuk
menurunkan kadar kolesterol dan meningkatkan sistem imun, sulfur organik (Allyl
propyl disulfide, Allicin) yang memberikan aroma khas bawang dan memiliki
sifat antimikroba, antijamur, dan antihipertensi, serta pigmen antosianin yang
memberikan warna merah keunguan pada beberapa varietas bawang merah.Pada tahun 2021 petani bawang merah di kabupaten Brebes mengeluhkan adanya peningkatan intensitas penyakit
Moler yang disebabkan oleh Fusarium oxysporum f.sp. cepae, dengan
intenstas bervariasi 0–75 % dengan kehilangan
hasil mencapai 50 %. Penyakit Moler atau
busuk pangkal umbi merupakan penyakit tular tanah yang sudah tersebar luas di
seluruh dunia. Penyakit ini disebabkan
oleh Fusarium oxysporum
f.sp. cepae atau Fusarium spp., menimbulkan gejala yang
diawali dengan klorosis pada daun diikuti memudarnya warna daun (menjadi
keputihan) dan daun melintir atau meliuk, sehingga para petani di kabupaten Brebes
memberinya dengan nama penyakit Moler.
Serangan berat menyebabkan bagian pangkal umbi membusuk dan terlihat
banyak miselium patogen. Patogen
Moler menyebabkan kehilangan hasil hingga 45 % di lahan dan kehilangan umbi di
penyimpanan hingga 12–30 %.Peningkatan intensitas penyakit Moler bawang merah di kabupaten Brebes
diduga dipicu oleh kegiatan budidaya para petani yang kurang tepat dan didukung
oleh factor alam atau lingkungan. Beberapa
faktor cuaca yang dapat mempengaruhi perkembangan penyakit tular tanah ini
melibatkan hubungan antara kelembaban, suhu, curah hujan, dan intensitas sinar
matahari dengan patogen dan varietas bawang merah yang ditanam oleh
petani. Faktor lingkungan tanah yang
dapat mempengaruhi perkembangan penyakit dan pertumbuhan tanaman bawang merah
melibatkan unsur-unsur seperti kelembaban tanah, tekstur tanah, drainase, dan salinitas
tanah. Perubahan
pH dan salinitas tanah juga dapat mempengaruhi aktivitas mikroorganisme tanah. Aktivitas mikroba dalam tanah, tanaman, serta
kondisi lingkungan di bawah dan di atas tanah juga dapat dipengaruhi oleh
aktivitas manusia atau petani. Cara
budidaya yang dilakukan oleh petani memiliki dampak yang signifikan terhadap
pertumbuhan tanaman, aktivitas mikroba tanah, dan kesehatan lingkungan lahan
secara keseluruhan. Berbagai praktik
budidaya dapat mempengaruhi produktivitas tanaman, kelimpahan mikroba tanah,
dan keberlanjutan lingkungan, namun juga perkembangan penyakit Moler ini. Penelitian dalam disertasi ini berusaha
untuk mempelajari faktor-faktor mendasar penyebab terjadinya epidemi Moler
bawang merah di kabupaten Brebes, Jawa Tengah, terutama dalam aspek lingkungan
dan cara budidaya tanaman bawang merah.Penelitian dilakukan dengan berbagai
metode, antara lain survei dan wawancara untuk mengumpulkan data tentang cara
budidaya bawang merah, antara lain pemupukan dan cara pengendalian penyakit
Moler, serta mencari hubungan antara tingkat keasaman dan salinitas tanah
terhadap insidensi penyakit Moler bawang merah.
Uji in vitro dilakukan dilakukan untuk mempelajari pengaruh suhu,
tingkat keasaman dan salinitas terhadap pertumbuhan dan perkembangan jamur APH
dan patogen, serta mempelajari tingkat infeksi patogen Moler terhadap benih
umbi bawang merah berbagai varietas. Selain itu, pada pengujian in vitro juga
dilakukan untuk mempelajari pengaruh waktu panen dan lama penyimpanan umbi
bawang merah terhadap indeks infeksi patogen Moler. Selanjutnya dilakukan pengujian in vivo untuk
mempelajari pengaruh lingkungan berupa suhu, kelembapan, intensitas sinar
matahari, tingkat keasaman dan salinitas tanah terhadap perkembangan penyakit
Moler, serta pertumbuhan dan hasil tanaman bawang merah, sedangkan pengujian
lapangan dilakukan untuk mempelajari pengaruh musim, jamur APH, dan perlakuan
benih dengan fungisida terhadap insidensi penyakit Moler pada lima varieta
bawang merah. Data yang dikumpulkan dengan
cara wawancara dianalisis secara deskriptif, sedangkan data hasil penelitian
secara in vitro dan in vivo dianalisis secara statistik menggunakan analisis
ragam pada taraf kepercayaan 95 %.Hasil penelitian menunjukkan bahwa perkembangan
penyakit Moler bawang merah di kabupaten Brebes dipengaruhi oleh berbagai
faktor lingkungan, baik di atas maupun di bawah tanah. Penyakit Moler bawang merah berkembang dengan
lebih baik pada musim penghujan daripada musim kemarau. Secara simultan kelembapan, suhu, dan
intensitas sinar matahari mempercepat perkembangan penyakit Moler bawang
merah. Sumbangan efektif kelembapan udara
relatif, suhu udara, dan intensitas sinar matahari terhadap insidensi penyakit
Moler bawang merah pada musim penghujan berturut-turut sebesar 44 %, 41 %, dan
15 %. Penyakit Moler bawang merah
berkembang lebih baik pada kondisi tanah yang terlalu asam (pH 2,0–4,5) atau
basa (pH 7,0–9,0), dan salinitas tanah yang rendah (0,2 mS cm-1) atau
tinggi (4 mS cm-1). Patogen Moler bawang merah tumbuh dan
berkembang paling cepat pada lingkungan dengan suhu hangat (35 oC),
tingkat keasaman netral sampai basa (pH 7-8), dan salinitas tinggi (3,5 mS cm-1). Peningkatan salinitas tanah menurunkan
ketahanan tanaman bawang merah terhadap penyakit Moler. Salinitas dan keasaman tanah juga
mempengaruhi aktivitas biologi dalam tanah, seperti Trichoderma sp., Gliocladium
sp, dan mikoriza. Daya hambat Trichoderma
sp. dan Gliocladium sp. terhadap patogen Moler lebih baik terjadi pada
lingkungan yang netral. Pada kondisi
tanah masam aktivitas Trichoderma sp. dalam menekan patogen Moler lebih
baik dibandingkan Gliocladium sp.
Pemanfaatan mikoriza mampu meningkatkan pertumbuhan tanaman bawang merah
namun belum mampu meningkatkan ketahanan tanaman terhadap serangan patogen
Moler. Trichoderma sp. lebih
efektif dalam mengendalikan patogen Moler bila diaplikasikan mandiri
dibandingkan dikombinasikan dengan Gliocladium sp.
Hasil wawancara terhadap petani bawang
merah di kabupaten Brebes diketahui bahwa pemupukan N, P, dan K yang dilakukan
oleh petani bawang merah melebihi batas yang direkomendasikan oleh pihak
berwenang, sebaliknya penggunaan pupuk organik masih jarang dilakukan oleh
petani. Petani masih melakukan
pengendalian penyakit Moler bawang merah secara terjadwal menggunakan pestisida
kimia dengan frekuensi yang sangat tinggi 2-4 hari sekali. Waktu panen umbi bawang merah tidak
mempengaruhi tingkat indeks infeksi benih bawang merah terhadap jamur patogen
Moler, sedangkan lama waktu penyimpanan hingga 80 hari dapat menurunkan infeksi
patogen Moler yang terbawa benih. Bagian
umbi yang paling banyak terjadi infeksi oleh patogen Moler berada pada bagian
pangkal umbi bawang merah daripada bagian ujung dan tengahnya. Indeks infeksi patogen Moler pada varietas
Thailand, Bima, dan Super Phillip lebih tinggi daripada varietas Bauji dan
Manjung. Varietas Bima
termasuk kategori tahan terhadap penyakit Moler bawang merah, sedangkan varietas Bauji termasuk kategori agak tahan, serta varietas Super Philip dan Tajuk termasuk kategori agak rentan. Perlakuan benih umbi
bawang merah dengan kombinasi fungisida protektan dan sistemik menurunkan
keparahan penyakit Moler bawang merah di lahan.