Abstrak
Representasi Desakralisasi dalam Film Conclave
Oleh :
Nicholas Maria Nathan Veda - D0221074 - Fak. ISIP
Nicholas Maria
Nathan Veda. D0221074. “Representasi Desakralisasi dalam Film Conclave”.
Skripsi. Program Studi Ilmu Komunikasi. Fakultas Ilmu Sosial dan Politik.
Universitas Sebelas Maret Surakarta.
Film Conclave (2024) menghadirkan narasi kontroversial mengenai
proses pemilihan Paus yang biasanya dianggap sebagai peristiwa hierofoni
(manifestasi kesucian), namun dalam film ini direpresentasikan sebagai arena
kontestasi politik yang penuh intrik. Penelitian ini bertujuan menganalisis
bagaimana film tersebut merepresentasikan desakralisasi sosok kardinal.
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode analisis
representasi. Alat analisis yang digunakan meliputi Teori Representasi Stuart
Hall dengan pendekatan konstruksionis untuk memahami produksi makna melalui
sistem tanda visual dan verbal, serta Teori Desakralisasi Mircea Eliade untuk
mengidentifikasi pergeseran nilai dari realitas sakral (the sacred)
menjadi realitas profan (the profane).
Hasil penelitian menunjukkan adanya lima bentuk desakralisasi utama: (1)
Desakralisasi politik transaksional oleh kubu Kardinal Liberal yang mengurangi
konsensus ilahi menjadi perhitungan elektoral; (2) Desakralisasi moral melalui
pengakuan Kardinal Adeyemi yang memiliki anak di luar nikah, yang melemahkan
integritas selibat klerus; (3) Desakralisasi etika prosedural yang ditunjukkan
oleh Kardinal Lawrence melalui taktik kampanye hitam (black campaign)
yang menggunakan dokumen rahasia; (4) Desakralisasi institusional oleh Kardinal
Tremblay yang memanipulasi hierarki gereja dan nama Paus demi kepentingan
pribadi; serta (5) Desakralisasi doktrinal melalui retorika intoleransi dan
ujaran kebencian Kardinal Tedesco yang menyerukan perang agama.
Kesimpulan penelitian menunjukkan bahwa film Conclave
mengonstruksi ulang identitas kardinal bukan sebagai figur spiritual yang
transenden, melainkan sebagai aktor politik duniawi yang rentan terhadap ambisi
profan, sehingga menghilangkan batas antara ruang suci dan ruang politik.