Abstrak


PERAN KAMERAMEN DAN DIRECTOR OF PHOTOGRAPHY (DOP) PADA PROSES PRODUKSI FILM DOKUMENTER “RARAS WUKU: HARMONI ANGKA PAWUKON”


Oleh :
Favian Maxentia - V1123058 - Sekolah Vokasi

Film dokumenter "RARAS WUKU: Harmoni Angka Pawukon" mengangkat Wuku sebagai bagian dari sistem Pawukon, warisan budaya Jawa yang sarat nilai historis, filosofis, dan kearifan lokal dalam memahami waktu, karakter, serta kehidupan masyarakat. Di tengah modernisasi, pemahaman generasi muda terhadap Wuku semakin berkurang akibat pergeseran budaya dan minimnya media edukasi bertema tersebut. Film ini bertujuan memperkenalkan kembali Wuku melalui media audio visual, sekaligus menjelaskan peran kameramen dan Director Of Photography (DOP) dalam merepresentasikan nilai budaya secara informatif dan estetis.Dalam produksi film ini, penulis berperan sebagai kameramen dan DOP yang terlibat sejak praproduksi hingga pascaproduksi. Pada tahap praproduksi, penulis melakukan riset dan observasi visual terhadap lokasi dan narasumber, menyusun konsep sinematografi bersama sutradara, serta merencanakan shotlist, look film, dan kebutuhan kamera, lensa, maupun pencahayaan. Pada tahap produksi, penulis menangani pengambilan gambar, mulai dari sudut, komposisi, dan pergerakan kamera, serta mendokumentasikan aktivitas narasumber, praktik Wuku, dan b-roll pendukung. Sebagai DOP, penulis mengatur pencahayaan, framing, dan tone warna di lapangan sekaligus mengawasi kualitas visual selama produksi. Pada tahap pascaproduksi, penulis berkoordinasi dengan tim penyunting dan colorist agar hasil editing dan color grading tetap konsisten dengan konsep sinematografi yang telah dirancang.Laporan Tugas Akhir ini menunjukkan bahwa peran kameramen dan DOP berkontribusi penting dalam membangun kualitas visual, memperkuat narasi dokumenter, serta menyampaikan pesan budaya secara komunikatif. Melalui pendekatan dokumenter ekspositori, film "RARAS WUKU: Harmoni Angka Pawukon" diharapkan menjadi media edukasi yang meningkatkan kesadaran generasi muda untuk mengenal, memahami, dan melestarikan Wuku sebagai warisan budaya Jawa yang tetap relevan di tengah kehidupan modern.