Abstrak
REPRESENTASI RAPE CULTURE DAN PEMBINGKAIAN KORBAN KEKERASAN SEKSUAL DALAM FILM INDONESIA (ANALISIS MULTIMODALITAS PADA FILM LIKE & SHARE TAHUN 2022)
Oleh :
Rosy Aqila Ahmad - D0221089 - Fak. ISIP
Setiap tahun peningkatan kasus kekerasan terhadap perempuan tercatat oleh
Catatan Tahunan (CATAHU) Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan
(Komnas Perempuan). Jumlah terbesar korbannya pada rentang usia 18-24 tahun
termasuk remaja perempuan. Penelitian ini mengkaji representasi budaya
pemerkosaan dan pembingkaian korban kekerasan seksual dalam film Indonesia
berjudul Like & Share (2022). Film ini dipilih karena menampilkan kekerasan
seksual baik di ruang pribadi maupun digital, sekaligus menonjolkan perspektif
korban perempuan remaja. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif, penelitian
ini menerapkan analisis multimodal karya Gunther Kress dan Theo van Leeuwen
untuk menyelidiki bagaimana mode naratif, visual, audio, dan gestural membangun
makna dalam adegan-adegan terpilih. Korpus terdiri dari lima belas adegan yang
mewakili tiga tingkatan piramida budaya pemerkosaan, yaitu normalisasi,
degradasi, dan penyerangan, serta adegan-adegan yang menggambarkan korban
kekerasan seksual. Temuan menunjukkan bahwa Like & Share merepresentasikan
budaya pemerkosaan melalui komentar seksis sehari-hari, lelucon seksual, sentuhan
yang tidak diinginkan, manipulasi psikologis terhadap anak, penyalahgunaan
kekuasaan, menyalahkan korban, penyebaran gambar intim tanpa persetujuan, dan
pengabaian institusional terhadap korban. Representasi ini mengungkapkan
bagaimana nilai-nilai patriarki, pendidikan seksualitas yang bias, dan normalisasi
perilaku misoginis berkontribusi pada berlanjutnya kekerasan seksual. Pada saat
yang sama, film ini menggambarkan korban bukan sebagai subjek pasif atau
bersalah, melainkan sebagai individu yang mengalami trauma, mencari keadilan,
dan merebut kembali suaranya. Melalui integrasi unsur-unsur multimodal, film ini
membangun narasi yang sarat emosi dan kritis yang selaras dengan perspektif
media feminis, terutama gagasan pemberdayaan, otonomi, dan representasi yang
berpusat pada korban. Studi ini menyimpulkan bahwa Like & Share tidak hanya
berfungsi sebagai teks sinematik, tetapi juga sebagai sarana kesadaran gender, yang
menyajikan representasi kritis terhadap budaya pemerkosaan sekaligus mendorong
wacana yang lebih empati dan memberdayakan bagi para korban kekerasan seksual.