Abstrak
Pemanfaatan Museum Sri Baduga sebagai Sumber Pembelajaran Sejarah di SMA Negeri 17 Bandung
Oleh :
Ardhita Ramadini Salsabila - K4422010 - Fak. KIP
Ardhita Ramadini Salsabila. K4422010. Pembimbing: Prof. Dr. Djono, M.Pd. PEMANFAATAN MUSEUM SRI BADUGA SEBAGAI SUMBER PEMBELAJARAN SEJARAH DI SMA NEGERI 17 BANDUNG. Skripsi. Surakarta: Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret Surakarta, Juli 2026 Penelitian ini bertujuan untuk (1) menganalisis sumber-sumber belajar yang digunakan dalam pembelajaran sejarah di SMA Negeri 17 Bandung, (2) mengetahui jenis-jenis koleksi yang ada di Museum Sri Baduga, (3) menganalisis pemanfaatan Museum Sri Baduga sebagai sumber pembelajaran sejarah di SMA Negeri 17 Bandung, (4) kendala dalam pemanfaatan Museum Sri Baduga sebagai sumber pembelajaran sejarah di SMA Negeri 17 Bandung. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan studi kasus. Sumber data penelitian ini meliputi peristiwa pembelajaran sejarah menggunakan sumber belajar museum, informan (guru sejarah, peserta didik kelas X, dan pamong budaya Museum Sri Baduga), dan dokumen (perencanaan pembelajaran). Teknik pengambilan sampel dilakukan dengan purposive sampling. Pengumpulan data dilakukan dengan teknik observasi berpartisipasi pasif, wawancara mendalam, dan analisis dokumen. Teknik validitas yang digunakan adalah triangulasi data dan metode. Analisis data dengan menggunakan teknis analisis interaktif. Hasil penelitian ini adalah sebagai berikut. Pertama, sumber belajar yang kerap digunakan di SMA Negeri 17 Bandung adalah sumber cetak berupa buku teks. Selain itu, guru memanfaatkan sumber belajar digital seperti, video pembelajaran, YouTube, dan teknologi AI. Untuk menciptakan pembelajaran yang lebih bervariasi dan mengurangi kejenuhan peserta didik, guru juga memanfaatkan sumber belajar lingkungan berupa museum. Kedua, koleksi Museum Sri Baduga diklasifikasikan menjadi 10 jenis antara lain, geologika, biologika, etnografika, arkeologika, historika, numismatika, filologika, keramologika, seni rupa, teknologika. Ketiga, pemanfaatan Museum Sri Baduga sebagai sumber pembelajaran dilaksanakan melalui kegiatan outing class. Guru telah menyusun perencanaan pembelajaran secara sistematis sesuai dengan materi pada Capaian Pembelajaran yaitu sejarah kerajaan Hindu-Buddha di Indonesia. Kegiatan kunjungan museum mampu menciptakan pembelajaran yang lebih kontekstual dan bermakna sehingga meningkatkan keaktifan peserta didik dan mengembangkan kemampuan berpikir kritis dengan berperan aktif mengeksplorasi informasi melalui observasi langsung terhadap koleksi museum. Keempat, kendala yang dihadapi dalam pelaksanaan kegiatan kunjungan meliputi keterbatasan waktu, serta ketidakseimbangan antara jumlah edukator dengan peserta didik sehingga penyampaian materi belum dapat diterima secara optimal oleh peserta didik.