Abstrak
Analisis Cedera Olahraga Pada Atlet Pencak Silat Sekolah Menengah Pertama Di (SKO) Surakarta Tahun 2025/2026
Oleh :
Catur Prakoso - O0222037 - Fak. Keolahragaan
Catur Prakoso. O0222037. Analisis Cedera Olahraga pada Atlet Pencak Silat
Sekolah Menengah Pertama di SKO Surakarta Tahun 2026. Skripsi, Fakultas
Keolahragaan, Universitas Sebelas Maret, Mei 2026.
Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan pengalaman terjadinya
cedera olahraga pada atlet pencak silat Sekolah Menegah Pertama di SKO Surakarta
Tahun 2026 dalam konteks latihan dan pertandingan, menggambarkan bentuk dan
karakteristik cedera olahraga yang dialami berdasarkan pengalaman atlet, serta
menggambarkan penanganan cedera olahraga saat cedera terjadi dan pada tahap
pemulihannya.
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan subjek
penelitian yang terdiri atas atlet, pelatih, dan masseur. Data dikumpulkan melalui
observasi, wawancara, dan dokumentasi, kemudian dianalisis menggunakan teknik
reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Untuk keabsahan data
menggunakan triangulasi sumber dan teknik.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa proses terjadinya cedera pada atlet
pencak silat SMP di SKO Surakarta terjadi pada saat latihan maupun pertandingan,
terutama dalam situasi kontak fisik, latihan tanding, teknik jatuhan, dan
pelaksanaan teknik gerakan tertentu. Faktor yang berkaitan dengan terjadinya
cedera meliputi kesalahan teknik gerakan, benturan fisik, intensitas latihan,
overtraining, kelelahan, serta kurang optimalnya stretching dan cooling down.
Pengalaman cedera yang dialami atlet memiliki bentuk, lokasi, dan tingkat
keparahan yang beragam, mulai dari memar, lebam, nyeri, pembengkakan, cedera
ankle, cedera lutut, cedera jari dan pergelangan tangan, hingga cedera yang lebih
berat seperti fraktur, robekan otot, dan cedera ACL. Penanganan cedera dilakukan
dengan menghentikan aktivitas, melakukan identifikasi kondisi cedera,
memberikan istirahat dan kompres es, serta menerapkan metode RICE. Pada
kondisi tertentu dilakukan pemeriksaan medis, seperti rontgen, dan penanganan
lanjutan melalui terapi, latihan ringan, latihan penguatan, serta rehabilitasi dengan
koordinasi antara pelatih, masseur, dan tenaga medis.
Kesimpulan penelitian menunjukkan bahwa cedera atlet terjadi dalam
latihan dan pertandingan dengan faktor utama berupa teknik, benturan, dan beban
aktivitas. Pengalaman cedera memiliki bentuk dan tingkat keparahan yang
beragam. Penanganan dilakukan secara bertahap melalui pertolongan awal,
pemeriksaan, terapi, dan rehabilitasi sebelum atlet kembali beraktivitas.