Abstrak


Komparasi Usahatani Sistem Kemitraan Padi Konsumsi dan Padi Lanang-Wedok (Pembenihan Padi Hibrida) Desa Mangunharjo Kecamatan Ngawi Kabupaten Ngawi


Oleh :
Annisa Ayu Melany - H0822022 - Fak. Pertanian

Pada wilayah Desa Mangunharjo selain usahatani padi mandiri, berkembang dua sistem kemitraan, yaitu kemitraan usahatani padi konsumsi dan kemitraan padi lanang-wedok yang sama-sama berperan mendukung produksi padi melalui pendampingan teknis, bantuan akses input, dan jaminan pasar. Penelitian ini bertujuan menganalisis pengelolaan usahatani dan perbandingan aspek pendapatan per hektar, efisiensi teknis, serta risiko antara usahatani mitra padi konsumsi dengan usahatani mitra padi lanang-wedok. Metode penentuan jumlah sampel penelitian ini yaitu stratified purposive sampling dengan hasil 40 petani mitra konsumsi dan 10 petani mitra lanang-wedok, serta 30 petani non-mitra dengan metode purposive sampling.  Metode analisis data penelitian yaitu (1) Analisis deskriptif budidaya padi dan kemitraan (2) Analisis biaya, penerimaan, dan pendapatan usahatani (3) Analisis efisiensi dengan Data Envelopment Analysis (4) Analisis statistik komparatif menggunakan Independent Sample T-Test untuk aspek pendapatan per hektar dan Mann-Whitney U-Test untuk aspek efisiensi teknis (5) Analisis risiko dengan koefisien variasi dalam aspek harga, produksi, dan pendapatan. Hasil penelitian menunjukkan adanya perbedaan pengelolaan budidaya, layanan kemitraan, pendapatan, efisiensi teknis, serta risiko usahatani dua jenis usahatani kemitraan ini. Kemitraan padi lanang-wedok memiliki sistem budidaya dan layanan kemitraan yang lebih intensif dibandingkan kemitraan padi konsumsi. Secara statistik terdapat perbedaan signifikan aspek pendapatan per hektar dan efisiensi teknis antara dua jenis usahatani kemitraan. Rerata pendapatan per hektar mitra padi lanang-wedok  Rp50.207.113,19 yang lebih tinggi dibandingkan pendapatan per hektar mitra padi konsumsi senilai Rp32.654.451,80. Rerata efisiensi teknis usahatani mitra padi lanang-wedok 0,96 mengindikasikan lebih efisien secara teknis daripada mitra padi konsumsi dengan skor 0,93. Pada aspek risiko, kemitraan padi lanang-wedok memiliki risiko harga, produksi, dan pendapatan yang lebih rendah dibandingkan kemitraan padi konsumsi. Setiap sistem usahatani memiliki kelebihan dan keterbatasan. Kemitraan padi lanang-wedok unggul dalam kepastian harga, pendapatan, efisiensi teknis, dan pengelolaan risiko, sedangkan kemitraan padi konsumsi menawarkan budidaya yang lebih sederhana, peluang negosiasi harga, dan perlindungan asuransi, tetapi keduanya memiliki keterbatasan dalam fleksibilitas dan pemasaran. Sementara itu, usahatani non-mitra memberikan keleluasaan dalam budidaya, pemilihan pembeli, dan negosiasi harga, namun tidak memperoleh jaminan pasar, pendampingan teknis, dukungan input, serta kepastian harga seperti pada sistem kemitraan.