Abstrak
PERAN SUTRADARA PADA PROSES PRODUKSI FILM DOKUMENTER “RESONANSI : Seni Musik Sebagai Media Ekspresi Kekecewaan”
Oleh :
Marlinda Windari - V1123077 - Sekolah Vokasi
Perbedaan kerap dipandang sebagai sesuatu yang perlu disembunyikan, bukan dipahami, terutama bagi anak berkebutuhan khusus di lingkungan sosial. Keresahan ini melatarbelakangi produksi film dokumenter “Resonansi: Seni Musik Sebagai Media Ekspresi Kekecewaan” yang mengangkat kisah Dito atau Banditoz Yaow, musisi hip-hop asal Yogyakarta, dan putranya Tama yang menyandang autisme. Laporan tugas akhir ini bertujuan untuk menjelaskan peran penulis sebagai sutradara dalam pembuatan film dokumenter “Resonansi: Seni Musik Sebagai Media Ekspresi Kekecewaan”, serta bagaimana proses kreatif dan produksinya dijalankan. Laporan ini mendeskripsikan sekaligus mendokumentasikan keterlibatan penulis dalam seluruh proses produksi, khususnya dalam menerjemahkan konsep naratif ke dalam bentuk audio-visual. Proses produksi film dokumenter ini berlangsung selama kurang lebih empat bulan, dengan lokasi syuting di Yogyakarta dan Surakarta. Sebagai sutradara, penulis bertanggung jawab dalam merumuskan visi kreatif dan pendekatan visual film, melakukan observasi mendalam terhadap narasumber guna membangun kedekatan dan kepercayaan, mengarahkan jalannya proses syuting agar sesuai dengan struktur naratif yang telah dirancang, memimpin sesi wawancara dengan narasumber, berkoordinasi dengan Director of Photography (DOP) dan kru teknis lainnya dalam menerjemahkan konsep visual ke dalam bahasa gambar, hingga melakukan pengawasan kreatif pada proses editing untuk menjaga konsistensi alur cerita dan pesan yang ingin disampaikan. Hasil dari proses ini menunjukkan bahwa peran sutradara sangat berpengaruh dalam menjaga kesatuan visi kreatif dan kualitas naratif film berdurasi 20 menit ini. Film ini tidak hanya memperkenalkan sosok Banditoz sebagai musisi, tetapi membuktikan bahwa musik dapat menjadi media untuk menyampaikan kekecewaan yang jujur terhadap perlakuan masyarakat atas perbedaan. Laporan ini menyimpulkan bahwa keberhasilan produksi tidak hanya ditentukan oleh aspek teknis, tetapi juga oleh kepekaan sutradara dalam membaca situasi lapangan, kedekatan dengan subjek, serta kemampuan menerjemahkan realitas menjadi narasi visual yang kuat, sehingga film ini diharapkan membuka cara pandang penonton agar lebih terbuka terhadap keterbatasan yang dimiliki orang lain.