Abstrak


Peran Pupuk Fosfat dan Mikoriza Terhadap pertumbuhan dan Hasil Kacang Hijau (Vigna radiata L.)


Oleh :
Shafa Hanum Istiqomah - H0722156 - Fak. Pertanian

Kacang hijau (Vigna radiata L.) merupakan salah satu kelompok tanaman kacang-kacangan yang penting di Indonesia, karena merupakan sumber bahan pangan berprotein tinggi. Masalah yang ada Indonesia yaitu memerlukan impor untuk memenuhi kebutuhan kacang hijau yang terus meningkat, sejalan dengan pertambahan jumlah penduduk. Upaya yang dilakukan untuk meningkatkan produksi dengan memperbaiki teknik budidaya khususnya penggunaan pupuk. Salah satu pupuk yang dibutuhkan tanaman adalah unsur P untuk pertumbuhan vegetatif dan generatif. Maka, diperlukan alternatif yang lebih berkelanjutan untuk efisiensi penggunaan P, yaitu penggunaan mikoriza yang dapat meningkatkan dalam menyerap unsur hara, terutama fosfat. Tujuan penelitian ini adalah untuk untuk mengetahui pengaruh dosis fosfat dan mikoriza pada pertumbuhan dan hasil kacang hijau. Penelitian dilaksanakan pada bulan September hingga Desember 2025 di Lab. Pertanian UNS Jumantono, Desa Sukosari, Kecamatan Jumantono, Kabupaten Karanganyar. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) Faktorial. Faktor pertama adalah pupuk SP-36 dengan tiga taraf, yaitu (P1) Tanpa pupuk SP-36, (P2) Dosis SP-36 0,43 g/tanaman, (P3) Dosis SP-36 0,86 g/tanaman. Faktor kedua yaitu dosis mikoriza yang terdiridari empat taraf, yaitu (M1) Tanpa mikoriza, (M2) Dosis mikoriza 5 g/tanaman, (M3) Dosis mikoriza 10 g/tanaman, dan (M4) Dosis mikoriza 15 g/tanaman. Terdapat 12 kombinasi perlakuan yang masing-masing ditempatkan pada 3 kelompok. Penggunaan dosis fosfat dan mikoriza secara bersamaan tidak mempengaruhi pertumbuhan dan hasil kacang hijau (Vigna radiata L.). Pada pemberian dosis fosfat 0,43 g/tanaman memberikan hasil terbaik pada tinggi tanaman dan indeks luas daun. Sedangkan pada pemberian dosis mikoriza 10 g/tanaman mampu memberikan hasil yang lebih baik pada beberapa variabel seperti tinggi tanaman, bobot segar polong per tanaman, dan bobot biji per tanaman.