Abstrak
Budidaya Sawi Hijau (Brassica rapa L. var. parachinensis) dalam Polibag dengan Pemberian Pupuk Organik Cair
Oleh :
Muhammad Naufal Abhista - V4123064 - Sekolah Vokasi
Sawi hijau (Brassica rapa L. var. parachinensis) merupakan salah satu komoditas hortikultura yang memiliki nilai ekonomi serta kandungan gizi yang tinggi. Permintaan pasar terhadap sawi hijau terus meningkat, namun keterbatasan lahan budidaya menjadi salah satu kendala dalam meningkatkan produksi. Budidaya menggunakan polibag dapat menjadi alternatif pemanfaatan lahan sempit, tetapi media tanam dalam polibag memiliki keterbatasan unsur hara sehingga memerlukan penambahan pupuk organik cair (POC). Kegiatan tugas akhir ini bertujuan untuk mempraktikkan budidaya sawi hijau dalam polibag dengan pemberian pupuk organik cair, mengetahui hasil pertumbuhan tanaman, serta menganalisis kelayakan usahataninya. Kegiatan dilaksanakan di Dusun Tanon Kidul, Desa Gedongan, Kecamatan Colomadu, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah pada tanggal 18 Maret–18 Mei 2026. Metode yang digunakan meliputi budidaya, pemasaran hasil panen, dan analisis usahatani. Parameter yang diamati meliputi kondisi lingkungan, tinggi tanaman, jumlah daun, dan berat tanaman. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa budidaya sawi hijau dalam polibag dengan pemberian pupuk organik cair mampu mendukung pertumbuhan tanaman. Selama budidaya, kondisi lingkungan seperti intensitas cahaya, suhu, kadar CO₂, dan kelembaban udara umumnya berada pada kisaran yang sesuai untuk pertumbuhan tanaman. Hasil pengamatan menunjukkan rata-rata tinggi tanaman mencapai 30 cm, jumlah daun 11 helai dengan berat 84 gram. Berdasarkan hasil budidaya, total produksi sawi yang didapat sebesar 10 kg, yang dipasarkan secara langsung kepada konsumen. Nilai R/C Rasio sebesar 0,37 dan B/C Ratio sebesar -0,63 menunjukkan bahwa penerimaan yang diperoleh belum mampu menutupi seluruh biaya produksi, sehingga usahatani belum layak diusahakan dan belum efisien secara ekonomis. Selain itu, total penerimaan sebesar Rp100.000 masih lebih rendah dibandingkan total biaya produksi sebesar Rp272.181,25 sehingga usahatani belum mengalami keuntungan.