Abstrak
Representasi Resistensi Tokoh Subordinat Terhadap Dominasi Surya Nawasena Dalam Serial Rencana Besar (2023)
Oleh :
Dikky Yudi Pradana - D0222031 - Fak. ISIP
Maraknya
aksi perlawanan terhadap pemerintah yang dilakukan oleh masyarakat Indonesia
pada akhir tahun 2025 menunjukkan bahwa resistensi terhadap kekuasaan masih
menjadi fenomena sosial yang hidup dan relevan. Kondisi tersebut mendorong
penulis untuk mengkaji bagaimana resistensi direpresentasikan dalam teks budaya
populer, khususnya serial Rencana Besar karya Danial Rifki. Rencana
Besar merupakan serial yang merefleksikan kondisi sosial-politik Indonesia
dan kembali masuk dalam daftar tontonan populer di platform streaming Prime
Video, menandakan bahwa isu yang diangkat memiliki relevansi yang kuat
dengan kondisi sosial-politik masyarakat Indonesia. Penelitian ini bertujuan
mengidentifikasi dan menganalisis resistensi yang direpresentasikan dalam
serial Rencana Besar. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif
deskriptif dengan pendekatan film studies dalam kerangka ilmu
komunikasi. Data dikumpulkan melalui observasi, dokumentasi, dan studi pustaka,
kemudian dianalisis menggunakan Qualitative Content Analysis. Sumber
data utama adalah adegan serial Rencana Besar yang merepresentasikan
resistensi, yang dianalisis melalui teori resistensi James C. Scott. Hasil
penelitian menunjukkan bahwa terdapat dua bentuk resistensi dalam serial ini,
yakni resistensi terbuka dan resistensi tertutup. Resistensi terbuka
termanifestasi dalam empat wujud yaitu bargaining, aksi demonstrasi,
resistensi simbolik, dan pemberontakan massal. Sementara itu, resistensi
tertutup termanifestasi dalam enam wujud yakni perencanaan perlawanan,
penyebaran rumor, kepatuhan semu, pencurian kecil (pilfering), hacking
sistem, dan pembangkangan. Temuan ini menunjukkan bahwa serial Rencana Besar
merepresentasikan resistensi secara kompleks dan berlapis, mencerminkan perlawanan
rakyat terhadap struktur kekuasaan terus bergerak mengikuti zaman. Serial Rencana
Besar dapat dipahami bukan sekadar sebagai karya hiburan, melainkan sebagai
medium yang turut memproduksi makna resistensi melalui adegan yang ditampilkan
oleh serial.