Abstrak


OPTIMALISASI PELAYANAN TRANSPORTASI PUBLIK BATIK SOLO TRANS DI KOTA SURAKARTA


Oleh :
Nadia Aisyah Febrianti - D0122091 - Fak. ISIP

Batik Solo Trans (BST) merupakan transportasi publik di Kota Surakarta sesuai dengan Peraturan Walikota Surakarta Nomor 8A Tahun 2017. Sebagai pelayanan publik, BST wajib memenuhi Standar Pelayanan Minimal (SPM) yang terdiri dari keselamatan, keamanan, kenyamanan, keterjangkauan, kesetaraan, dan keteraturan. Data menunjukkan bahwa BST belum memenuhi standar tersebut sehingga diperlukan upaya peningkatan kualitas pelayanan.  Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif deskriptif dengan pendekatan studi kasus yang bertujuan untuk mengetahui optimalisasi pelayanan BST melalui dimensi self – esteem, exceed expectation, recovery, vision, improve, care, dan empower. Teknik pengumpulan data menggunakan wawancara mendalam dan studi dokumentasi. Penentuan informan menggunakan teknik purposive sampling, sementara validitas data menggunakan triangulasi sumber. Analisis data mengacu pada Miles dan Huberman terdiri dari reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa optimalisasi pelayanan BST oleh Dinas Perhubungan Kota Surakarta pada dimensi self-esteem dengan evaluasi pekerjaan pegawai oleh pimpinan dan fleksibilitas kebijakan untuk sopir yang diperbolehkan turun dari kursi pengemudi di halte. Pada dimensi exceed expectation dengan evaluasi pelayanan berdasarkan keluhan. Pada dimensi recovery dengan memanggil, menegur, dan memberi sanksi sopir ugal – ugalan. Selain itu, sinkronisasi keluhan pengguna dengan kondisi lapangan melalui Closed Circuit Television (CCTV) dan Global Position System (GPS), serta mengatasi keluhan selama satu hingga dua hari. Pada dimensi vision dengan penggunaan aplikasi Mitra Darat. Pada dimensi improve dengan membersihkan halte kotor. Selain itu, memperbaiki halte rusak dan membangun halte PTIS (Public Transport Intelligence System), tetapi belum mencakup semua halte. Pada dimensi care dengan mengontrol headway di awal keberangkatan bus dan menjamin pengguna dengan memberikan pelayanan halte yang nyaman. Pada dimensi empower dengan memberikan bimbingan teknis kepada sopir, serta penghargaan dan insentif kepada pegawai teladan. Faktor pendukung optimalisasi pelayanan BST adalah dinas memfasilitasi keluhan pengguna dan izin pembangunan halte PTIS. Faktor penghambat optimalisasi tersebut adalah kebijakan efisiensi anggaran, human error sopir, dan kondisi lalu lintas jalan.