Abstrak
Analisis Transformasi Makna dan Simbolisme Elemen Visual dalam Lukisan Gigih Wiyono Periode 2022-2025
Oleh :
Lia Feni Lestari - K3222030 - Fak. KIP
Lia Feni Lestari. K3222030. Pembimbing: Prof. Dr Slamet Subiyantoro, M.Si. Analisis Transformasi Makna dan Simbolisme Elemen Visual dalam Lukisan Gigih Wiyono Periode 2022-2025. Skripsi, Surakarta: Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Sebelas Maret. Juni 2026.Penelitian ini bertujuan untuk (1) menganalisis makna dibalik simbolisme elemen visual karya Gigih Wiyono yang diciptakan pada periode 2022-2025. (2) menganalisis transformasi makna simbolik pada lukisan Gigih Wiyono periode 2022-2025. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif analisis deskriptif dengan pendekatan studi kasus tunggal. Data penelitian ini meliputi informan (seniman, penikmat seni, dan akademisi seni), dokumentasi (lukisan karya Gigih periode 2022-2025), dan dokumen/arsip (katalog pameran, rekaman, catatan lapangan, rekaman komunikasi melalui whatsapp). Teknik pengambilan sampel dilakukan berdasarkan aturan purposive sampling. Pengumpulan data dilakukan dengan cara wawancara mendalam, observasi berperan pasif, f, dan analisis dokumentasi. Teknik uji keabsahan data dalam penelitian ini menggunakan triangulasi sumber dan triangulasi teknik. Dalam penelitian ini proses analisis data dilakukan melalui flow model atau model alir yang meliputi reduksi data, penyajian data, penarikan kesimpulan. Hasil pembahasan menunjuukan makna simbolisme elemen visual dalam tiga lukisan menunjukkan beragam representasi nilai kehidupan masyarakat Jawa. Subur Makmur merepresentasikan kesuburan agraris, harmoni manusia dan alam, serta keberlangsungan kehidupan. Sang Linuwih menggambarkan perjalanan spiritual menuju kesucian batin, keseimbangan hidup, dan kedekatan dengan Tuhan. Sementara itu, Gemah Ripah Loh Upeti merepresentasikan kritik sosial terhadap ketimpangan, marginalisasi, dan penyalahgunaan kekuasaan yang berdampak pada masyarakat agraris. Transformasi makna simbol dalam lukisan Gigih Wiyono periode 2022-2025 menunjukkan bahwa makna simbol bergeser sesuai tema dan konteks penciptaan karya. Tiga simbol yang sama dimaknai sebagai kesuburan dan kemakmuran dalam Subur Makmur, spiritualitas dan hubungan manusia dengan Tuhan dalam Sang Linuwih, serta kritik sosial-politik terhadap beban perpajakan dalam Gemah Ripah Loh Upeti. Hal ini menunjukkan bahwa makna simbol tidak bersifat tetap, melainkan berkembang mengikuti gagasan, pengalaman, dan pesan seniman.