Abstrak


Perbandingan Efektivitas Pendekatan Computational Thinking dan Conceptual Change Model dalam Mereduksi Miskonsepsi Sistem Saraf Kelas XI SMA Negeri 1 Karangdowo


Oleh :
Dewi Sahita Parameswara - K4321026 - Fak. KIP

Dewi Sahita Parameswara. K4321026. Pembimbing I: Prof. Dr. Muzzazinah, M.Si. PERBANDINGAN EFEKTIVITAS PENDEKATAN COMPUTATIONAL THINKING DAN CONCEPTUAL CHANGE MODEL DALAM MEREDUKSI MISKONSEPSI SISTEM SARAF KELAS XI SMA NEGERI 1 KARANGDOWO. Skripsi, Surakarta: Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret, Agustus 2026. Materi sistem saraf tergolong salah satu topik biologi SMA yang paling sulit dipahami siswa karena sifatnya yang abstrak dan sekuensial. Kondisi tersebut menyebabkan miskonsepsi mekanistik-sekuensial sulit direduksi hanya melalui pembelajaran ekspositori konvensional. Data diagnostik awal mengonfirmasi kondisi tersebut dengan prevalensi miskonsepsi pada klaster potensial aksi mencapai 8,4% pada kelompok CCM dan 21,0% pada kelompok CT, sementara guru belum memiliki panduan empiris komparatif untuk mengatasinya. Penelitian ini bertujuan membandingkan efektivitas pendekatan Computational Thinking (CT) dan Conceptual Change Model (CCM) dalam mereduksi miskonsepsi tersebut pada siswa kelas XI SMA. Penelitian menggunakan desain kuasi-eksperimental nonequivalent control group dengan 39 siswa, terdiri atas kelompok CCM (n = 19) dan CT (n = 20) di SMA Negeri 1 Karangdowo. Data dikumpulkan menggunakan four-tier diagnostic test, asesmen formatif, dan lembar observasi fidelitas implementasi, kemudian dianalisis menggunakan ANCOVA satu kovariat, Welch's t-test, dan Fisher's Exact Test. Hasil menunjukkan bahwa capaian posttest kelompok CT secara signifikan lebih tinggi dibandingkan kelompok CCM setelah mengontrol kemampuan awal, F(1,36) = 13,119; p = 0,001; ηp² = 0,267 (efek besar). N-Gain kelompok CT juga secara signifikan lebih tinggi, t(29,22) = -3,899; p = 0,001; d = 1,23 (efek sangat besar). Proporsi siswa dengan kategori N-Gain sedang hingga tinggi pada kelompok CT juga lebih besar dibandingkan kelompok CCM (65% vs. 15,8%; p = 0,005; V = 0,504). Pada klaster potensial aksi, prevalensi miskonsepsi kelompok CT menurun dari 21,0% menjadi 7,0%, sedangkan kelompok CCM meningkat dari 8,4% menjadi 21,1%. Komponen algoritma pada CT menjadi prediktor N-Gain terkuat (r = 0,799). Temuan ini mengindikasikan bahwa eksternalisasi urutan proses secara eksplisit melalui CT memberikan keunggulan khusus dalam mereduksi miskonsepsi mekanistik-sekuensial. Penelitian ini merekomendasikan integrasi komponen Computational Thinking sebagai pelengkap strategi pembelajaran konvensional pada materi sistem saraf.