Abstrak


Usaha Pembibitan Kubis Bunga (Brassica oleracea var. botrytis) Varietas Bima 45 dengan Pemberian Ekstrak Akar Bambu di Kabupaten Magetan


Oleh :
Putri Dwi Lestari - V4423005 - Sekolah Vokasi

Kubis bunga (Brassica oleracea var. botrytis) merupakan salah satu komoditas hortikultura yang dibudidayakan di Kabupaten Magetan. Keberhasilan budidaya kubis bunga salah satunya dipengaruhi oleh penggunaan bibit yang sehat dan serempak. Salah satu upaya yang dilakukan dalam pembibitan adalah penggunaan ekstrak akar bambu yang mengandung mikroorganisme rhizosfer dan berpotensi mendukung pertumbuhan bibit. Tujuan kegiatan Tugas Akhir ini adalah mempelajari dan mempraktikkan proses pembibitan kubis bunga varietas Bima 45 dengan pemberian ekstrak akar bambu, mengetahui strategi pemasaran bibit kubis bunga, serta menganalisis biaya, keuntungan, dan kelayakan usaha pembibitan kubis bunga. Kegiatan Tugas Akhir dilaksanakan di Desa Pacalan, Kecamatan Plaosan, Kabupaten Magetan, Jawa Timur, pada ketinggian sekitar ±780 mdpl. Metode pelaksanaan meliputi praktik langsung, observasi, studi pustaka, dan dokumentasi. Kegiatan pembibitan meliputi pemilihan benih, pembuatan media semai, pembuatan ekstrak akar bambu, penyemaian, pemeliharaan, hingga pemasaran bibit. Ekstrak akar bambu dibuat sebanyak 15 L dan digunakan sebanyak 15 mL dalam satu periode produksi. Pemasaran dilakukan secara langsung kepada petani dan didukung melalui WhatsApp dan Instagram dengan penerapan strategi STP serta bauran pemasaran 4P (product, price, place, dan promotion).Berdasarkan hasil kegiatan Tugas Akhir menunjukkan bahwa pembibitan kubis bunga varietas Bima 45 dengan pemberian ekstrak akar bambu dapat dilaksanakan hingga tahap pemasaran, dengan 500 bibit berhasil terjual seharga Rp350 per bibit dan menghasilkan penerimaan Rp175.000. Secara finansial, usaha pembibitan menguntungkan berdasarkan biaya eksplisit, dengan pendapatan Rp52.991, R/C Ratio 1,43, dan B/C Ratio 0,43. Namun, berdasarkan biaya total usaha belum layak secara ekonomi, karena penerimaan Rp175.000 lebih rendah daripada biaya total Rp272.641,5, sehingga mengalami kerugian Rp97.641,5 dengan R/C Ratio 0,64 dan B/C Ratio -0,36. Dengan demikian, usaha pembibitan pada satu periode produksi belum mampu menutup seluruh biaya produksi apabila biaya implisit diperhitungkan.