Abstrak
Studi Fenomenologi : Religion as Coping Mechanism pada Siswa di SMA PL St. Yosef Surakarta.
Oleh :
Etheldreda Dwi Ayu Yuniar - K3122028 - Fak. KIP
Tingginya tekanan akademik dan masalah hubungan
interpersonal yang dihadapi oleh siswa di sekolah menuntut adanya manajemen
stres yang efektif untuk menjaga kesehatan mental. Penelitian ini bertujuan
untuk mendeskripsikan pemaknaan religion as coping mechanism pada siswa
di SMA PL St. Yosef Surakarta. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif
interaktif dengan metode fenomenologi. Informan dalam penelitian ini melibatkan
tiga orang siswa Katolik di SMA PL St. Yosef Surakarta yang berinisial A, ZN,
dan V. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam, serta dilengkapi
dengan studi dokumentasi sebagai sumber pendukung. Teknik analisis data menggunakan
langkah-langkah reduksi fenomenologis, yaitu bracketing (Epoche) untuk
mengesampingkan bias peneliti, horizonalizing untuk memberikan nilai
setara pada setiap pernyataan partisipan, dilanjutkan dengan pengeliminasian
horizon inti, pengelompokan ke dalam tema-tema makna, hingga penyusunan
deskripsi tekstural yang menggambarkan esensi dari pengalaman. Hasil analisis
data menunjukkan bahwa pemaknaan religion as coping mechanism pada siswa
bersifat subjektif dan terbagi ke dalam 7 dimensi, yaitu kognitif, emosional,
perilaku, sosial, spiritual, moral, dan eksistensial. Hasil penelitian menunjukkan
tiga informan memiliki tipologi koping yang berbeda : Informan A menerapkan positive
religious coping yang kuat di seluruh dimensi (doa sebagai motivasi
kognitif, pereda cemas emosional, ibadah rutin, dukungan OMK, keyakinan
spiritual, pedoman moral mengampuni, dan arah eksistensial); Informan ZN lebih
dominan menggunakan problem-focused coping (pola pikir mandiri, kontrol
emosi pribadi, ibadah tidak rutin, ibu sebagai pegangan eksistensial), namun
tetap memanfaatkan agama pada dimensi sosial, spiritual, dan moral; sedangkan
Informan V menerapkan positive religious coping mendalam (melalui benevolent
reappraisal, katarsis doa malam, devosi rutin Rosario/Novena, nilai kasih,
dan menjadikan Tuhan sebagai tempat curhat utama). Dapat disimpulkan religion
as coping mechanism terbukti berfungsi menjaga kesehatan mental dan
stabilitas emosi siswa, baik sebagai sumber kekuatan psikologis utama maupun
pendukung. Saran bagi Guru BK dapat memahami keberagaman cara siswa
memanfaatkan agama sebagai coping mechanism serta mengintegrasikan
pendekatan spiritual dalam konseling. Peneliti selanjutnya dapat memperluas
kajian mengenai peran spiritualitas dan agama dalam kehidupan siswa melalui
cakupan informan yang lebih luas maupun pendekatan penelitian yang beragam.