Abstrak
KEARIFAN EKOLOGIS DAN PEMAKAIAN GAYA BAHASA DALAM NOVEL BERTEMA LINGKUNGAN SERTA PEMANFAATANNYA DALAM PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA DI SMP
Oleh :
Ricky Ahmad Ihsannudin - K1222069 - Fak. KIP
Penelitian ini
bertujuan untuk (1) mendeskripsikan dan menjelaskan aspek kearifan ekologis
yang terdapat pada novel bertema lingkungan, (2) mendeskripsikan dan
menjelaskan pemakaian gaya bahasa yang terdapat pada novel bertema lingkungan, (3) mendeskripsikan dan menjelaskan bentuk pemanfaatan
hasil analisis kearifan ekologis dan gaya bahasa dari novel bertema lingkungan
khususnya novel Into the Beneath karya Rifqi Farizi dan novel Pak
Tua yang Membaca Kisah Cinta karya Luis SepĂșlveda dalam pembelajaran bahasa
Indonesia di SMP. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif
dengan pendekatan ekokritik. Sumber data penelitian menggunakan sumber data
primer berupa berupa novel Into the Beneath, novel Pak Tua
yang Membaca Kisah Cinta, kurikulum mata pelajaran bahasa Indonesia SMP, dan informan. Teknik pengambilan sampel dilakukan dengan purposive
sampling. Pengumpulan data dilakukan dengan analisis dokumen, dan wawancara
mendalam. Teknik uji validitas yang digunakan adalah triangulasi teori, dan
triangulasi sumber data. Analisis data dengan menggunakan teknik analisis
mengalir yang terdiri dari, pengolahan data (data condensation), penyajian data (data display), serta
penarikan kesimpulan dan verifikasi (drawing and verifying conclusions). Data dikumpulkan melalui teknik analisis
dokumen dan wawancara mendalam bersama guru serta siswa SMP Negeri 1 Pedan.
Validitas data diuji menggunakan teknik triangulasi teori dan sumber. Hasil
penelitian menunjukkan: (1) Ditemukan 13 data kearifan ekologis pada novel Into
the Beneath yang didominasi oleh prinsip Tanggung Jawab terhadap Alam
(53,85%), sedangkan pada novel Pak Tua yang Membaca Kisah Cinta
ditemukan 18 data yang didominasi oleh prinsip Hidup Sederhana dan Selaras
dengan Alam (50%). (2) Analisis gaya bahasa pada Into the Beneath menghasilkan
57 data yang didominasi majas sinekdoke (26,32%) dengan karakteristik cenderung
konvensional, sementara novel Pak Tua yang Membaca Kisah Cinta memuat
118 data yang didominasi antonomasia (26,27%) dengan karakteristik lebih
ekspresif dan segar. (3) Kedua novel sangat layak diintegrasikan ke dalam
materi esensial Fase D (SMP), khususnya untuk teks resensi, teks tanggapan, dan
teks diskusi. Model pembelajaran yang paling sesuai dan didukung data empiris
adalah Pembelajaran Berbasis Diskusi (Discussion-Based Learning) dengan
memanfaatkan kutipan novel sebagai stimulus guna melatih penalaran kritis dan
kolaborasi peserta didik.