Abstrak
EKSISTENSI BUDAYA KULINER TIONGHOA DAN DUALISME IDENTITAS KULTURAL DALAM RESTORAN WINGHENG DAN WINGLOK DI SEMARANG
Oleh :
Safina Aishya Novitri Tambunan - B0622038 - Fak. Ilmu Budaya
Penelitian ini mengkaji
keberadaan kuliner Tionghoa serta identitas budaya yang terlihat pada dua
restoran terkenal di Semarang, yakni Wingheng (永興) dan Winglok (永乐). Kedua tempat ini menarik untuk diteliti karena
meskipun sama-sama mengangkat budaya kuliner Tionghoa, mereka memperlihatkan
pendekatan yang kontras dalam memperkenalkan dan mempertahankan tradisi di kota
yang penduduknya sangat beragam. Fokus penelitian ini bagaimana restoran
menjadi sarana pelestarian budaya kuliner Tionghoa. Dengan menggunakan metode
deskriptif kualitatif, data dikumpulkan lewat observasi, wawancara dengan
pengelola, dan studi literatur. Kerangka analisis mengacu pada teori Circuit of Culture. Stuart Hall yang mencakup produksi,
representasi, konsumsi, identitas, dan regulasi. Temuan menunjukkan bahwa kedua
restoran memiliki tujuan, yakni mengenalkan dan menjaga warisan kuliner
Tionghoa, tetapi dijalankan dengan cara yang sangat berbeda. Wingheng memilih
jalur tradisional dengan menyajikan menu non-halal serta menghadirkan atmosfer
dengan unsur budaya Tionghoa asli. Sebaliknya, Winglok hadir sebagai bentuk
penyesuaian bagi pelanggan Muslim dengan mengusung konsep no pork no lard,
namun tetap mempertahankan cita rasa khas kuliner Tionghoa. Eksistensi kedua
restoran terlihat dari berbagai aspek: proses produksi yang menjaga
autentisitas rasa, representasi budaya melalui pilihan menu, penggunaan aksara Hanzi,
desain interior, hingga pemanfaatan media sosial. Dari sisi konsumsi, kedua
restoran diterima luas oleh berbagai kalangan. Identitas masing-masing justru
terbentuk dari perbedaan pendekatan yang dipilih, sementara regulasi berupa
adaptasi terhadap norma sosial setempat. Dualisme antara pelestarian dan
penyesuaian ini membuktikan bahwa menjaga budaya dapat dilakukan secara
fleksibel seiring dengan dinamika masyarakat majemuk.