Abstrak
Analisis Rantai Nilai (Value Chain) Gula Semut DI Kabupaten Purworejo
Oleh :
Salsabiila Yulia Rahmitasari - H0822134 - Fak. Pertanian
Kelapa merupakan salah satu komoditas unggulan di Jawa Tengah, dengan Kabupaten Purworejo sebagai salah satu daerah penghasil kelapa terbesar dengan produksi sebesar 21.085,42 ton pada tahun 2025. Nira kelapa sebagai bahan baku utama dapat diolah menjadi gula semut yang memiliki potensi pemasaran, namun rantai nilai gula semut di Kabupaten Purworejo masih menghadapi kendala berupa koordinasi antar pelaku yang belum optimal, ketidakseragaman mutu produk, serta keterbatasan teknologi dan pembiayaan. Kondisi tersebut memengaruhi distribusi nilai antar pelaku sehingga diperlukan analisis rantai nilai untuk mengetahui alur pemasaran serta strategi penguatan kelembagaan dan kemitraan dalam pengembangan gula semut.Metode dasar dalam penelitian ini adalah deskriptif dengan penentuan lokasi secara sengaja atau menggunakan metode purposive sampling yakni di Desa Sokoagung dan Hargorojo Kecamatan Bagelen, Kabupaten Purworejo. Penelitian ini mengambil sampel produsen gula semut sebanyak 30 orang, 3 orang pedagang pengumpul, 2 orang pedagang besar dan Koperasi Produsen Karnika Mandiri Sejahtera. Data sekunder yang digunakan berasal dari buku, jurnal, serta instansi pemerintah atau lembaga lain yang berhubungan dengan penelitian. Metode pengumpulan data menggunakan teknik wawancara, observasi, pencatatan, dan dokumentasi.Hasil penelitian menunjukkan terdapat 4 pola saluran pemasaran dengan pelaku yang meliputi produsen, pedagang pengumpul desa, pedagang besar, koperasi pengolah, industri pengolah, dan konsumen, dimana saluran pemasaran I menjadi saluran paling efisien secara ekonomi dengan nilai farmer’s share sebesar 100%. Saluran pemasaran III memiliki nilai farmer’s share terendah sebesar 50,89% karena melibatkan lebih banyak lembaga pemasaran dalam proses distribusi produk. Nilai tambah terbesar dalam setiap saluran pemasaran gula semut di Kabupaten Purworejo diperoleh oleh produsen gula semut dengan rata-rata sebesar 36,83%. Upaya peningkatan rantai nilai dapat dilakukan melalui product upgrading, process upgrading, dan functional upgrading melalui peningkatan kualitas produk, efisiensi produksi, pemanfaatan teknologi, perluasan akses pasar, serta penguatan koordinasi antar pelaku rantai nilai.