Abstrak


Pengaruh BAP dan Pepton Terhadap Pertumbuhan dan Anatomi Cattleya maxima Lindl. pada Media Modifikasi MS


Oleh :
Nadya Rahma Aurita - H0722114 - Fak. Pertanian

Cattleya maxima Lindl. merupakan salah satu spesies anggrek dengan nilai ekonomis dan estetika tinggi, namun produksinya di Indonesia mengalami penurunan, salah satunya akibat lamanya masa budidaya hingga berbunga dan terbatasnya perbanyakan generatif karena biji Cattleya tidak memiliki endosperma sebagai cadangan makanan. Kultur in vitro dipilih sebagai metode alternatif perbanyakan karena mampu menyediakan kondisi terkendali dengan media kaya nutrisi yang menggantikan peran simbiosis mikoriza dalam mendukung perkecambahan. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi pengaruh interaksi BAP dan pepton, serta menentukan konsentrasi optimal masing-masing zat, terhadap pertumbuhan dan anatomi planlet C. maxima pada media ½ MS. Penelitian dilaksanakan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dua faktor, yaitu BAP (0; 0,5; 1; 1,5; dan 2 ppm) dan pepton (0; 1; 2; 3; dan 4 g/L), sehingga diperoleh 25 kombinasi perlakuan dengan ulangan yang menghasilkan total satuan percobaan sesuai rancangan. Bahan tanam yang digunakan adalah planlet C. maxima berukuran 1,5–2 cm dengan 3–4 helai daun, yang disubkultur pada media ½ MS termodifikasi dengan penambahan ekstrak wortel. Variabel yang diamati meliputi respons pertumbuhan (waktu muncul akar dan tunas, jumlah akar, jumlah tunas, jumlah daun, tinggi planlet, dan bobot segar planlet) serta karakteristik anatomi daun dan akar, seperti ketebalan eksodermis, ketebalan mesofil, dan luas berkas vaskular. Hasil penelitian menunjukkan bahwa interaksi BAP dan pepton mempercepat waktu muncul tunas sebesar 68,40% dan meningkatkan ketebalan eksodermis akar sebesar 88,64% pada kombinasi BAP 0,5 ppm dan pepton 3 g/L, meningkatkan ketebalan mesofil daun sebesar 107,34% pada kombinasi BAP 1,5 ppm dan pepton 1 g/L, serta meningkatkan luas berkas vaskular akar sebesar 310,32% pada kombinasi BAP 1,5 ppm dan pepton 4 g/L dibanding kontrol. Secara mandiri, BAP 0,5 ppm meningkatkan jumlah daun sebesar 48,39% dan BAP 1,5 ppm meningkatkan bobot segar planlet sebesar 47,62% dibanding kontrol, sedangkan pepton 1 g/L meningkatkan jumlah akar sebesar 44,35%, jumlah tunas sebesar 63,64%, dan bobot segar planlet sebesar 23,08% dibanding kontrol. Konsentrasi pepton yang terlalu tinggi (3–4 g/L) cenderung kurang optimal, sehingga penelitian lanjutan disarankan menggunakan rentang pepton yang lebih sempit di sekitar 1 g/L (0,5–1,5 g/L) untuk hasil pertumbuhan dan anatomi yang lebih optimal.