Abstrak


Desain Interior Gedung Dekranasda sebagai Museum Kota Salatiga dengan Pendekatan Adaptive Reuse


Oleh :
Trianita Wahyu Murti Widyanti - C0822074 - Fak. Seni Rupa dan Desain

Salatiga merupakan kota tertua kedua di Indonesia dengan sejarah panjang sejak masa kolonial, namun hingga kini belum memiliki museum yang dikelola secara optimal sehingga informasi sejarah, cagar budaya, dan identitas lokal kota belum tersampaikan menyeluruh kepada masyarakat. Gedung Dekranasda, sebagai bangunan cagar budaya hasil revitalisasi Gedung Chung Hwa Tsung Hwee (1890) yang berlokasi strategis di pusat Kota Salatiga, berpotensi dijadikan museum kota, namun kondisinya masih sepi pengunjung dan belum dimanfaatkan maksimal. Berdasarkan permasalahan tersebut, dirumuskan bagaimana mendesain interior Gedung Dekranasda agar menjadi ruang edukasi yang optimal sekaligus menerapkan pendekatan adaptive reuse, dengan tujuan menghasilkan desain interior Gedung Dekranasda sebagai Museum Kota Salatiga yang mewadahi fungsi edukasi tanpa menghilangkan nilai historis dan karakter arsitektur bangunan. Metode pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara, dan studi dokumentasi terhadap objek utama serta tiga lokasi pembanding, yaitu Museum Salatiga, Rumah Atsiri Indonesia, dan Museum Nasional Indonesia. Proses desain mengikuti tahapan programming, skematik, pengembangan desain, hingga presentasi, dengan metode pembangkitan ide berupa mind mapping, studi preseden, serta sketching dan diagramming, yang dikembangkan secara digital menggunakan AutoCAD dan SketchUp. Konsep desain menitikberatkan pada pendekatan adaptive reuse dengan mengadaptasi gaya Arsitektur Cina sebagai karakter asli bangunan, tanpa mengubah bentuk maupun struktur eksistingnya. Hasil temuan menunjukkan Gedung Dekranasda memiliki elemen khas seperti courtyard (sumur langit), struktur terbuka, serta ornamen simbolis seperti motif Swastika/Banji, jamur lingzhi, dan awan distalasi, dengan skema warna merah, hijau, kuning, putih, dan biru yang khas Arsitektur Cina. Berdasarkan temuan tersebut, program ruang dirancang mencakup area pengelolaan, tiga belas ruang pamer tematik bertema sejarah dan budaya Salatiga, serta area komersial dan servis, dilengkapi sistem pendukung interior berupa perencanaan jalur evakuasi (fire escape plan) untuk memenuhi standar keselamatan bangunan publik. Zoning, organisasi ruang, sirkulasi, bentuk, furnitur, warna, dan material dirancang mengadaptasi karakter eksisting bangunan, sehingga fungsi baru sebagai Museum Kota Salatiga terwujud tanpa menghilangkan nilai cagar budaya.