Abstrak
Penggabungan Citra Radar Sentinel-1 dan Citra Optik Sentinel-2 untuk Identifikasi Penggunaan Lahan di Sumatera Barat
Oleh :
Ahmad Pranandito Surya Wijaya - I0722076 - Fak. Teknik
Deforestasi dan alih fungsi lahan di Provinsi
Sumatera Barat menjadi salah satu faktor yang memperparah risiko bencana
hidrometeorologi, sebagaimana tercermin dari tingginya kejadian banjir dan
tanah longsor dalam beberapa tahun terakhir. Pemantauan penggunaan dan tutupan
lahan (Land Use/Land Cover, LULC) secara berkelanjutan menjadi kebutuhan
mendesak untuk mendukung mitigasi bencana dan evaluasi tata ruang. Penelitian
ini mengembangkan sistem klasifikasi LULC berbasis algoritma Random Forest (RF)
dengan menggabungkan citra radar Sentinel-1 dan citra optik Sentinel-2
menggunakan platform Google Earth Engine (GEE). Klasifikasi dilakukan terhadap
enam kelas tutupan lahan, yaitu Vegetasi Alami, Agrikultur Lainnya, Nonvegetasi
Lainnya, Badan Air, Kebun Sawit, serta Sawah dan Vegetasi Tergenang, dengan area
kajian meliputi daratan Provinsi Sumatera Barat. Evaluasi dilakukan menggunakan
spatial k-fold cross-validation pada data ground truth tahun 2019, dilanjutkan
dengan analisis temporal berbasis time series semester untuk periode 2019–2025.
Hasil pengujian menunjukkan bahwa skenario kombinasi Sentinel-1 dan Sentinel-2
menghasilkan akurasi tertinggi dengan Overall Accuracy (OA) sebesar 94,5%,
nilai Kappa 0,934, dan F1-Score 0,945, melampaui skenario Sentinel-1 tunggal
(OA 90,4%; Kappa 0,888) maupun Sentinel-2 tunggal (OA 86,4%; Kappa 0,934).
Analisis per-kelas mengonfirmasi sifat komplementaritas kedua sensor:
Sentinel-1 lebih unggul untuk kelas dengan struktur kanopi khas seperti
Vegetasi Alami (F1-Score 0,926) dan Kebun Sawit (F1-Score 0,877), sedangkan
Sentinel-2 lebih efektif untuk kelas Sawah dan Vegetasi Tergenang (F1-Score 0,885)
serta Nonvegetasi Lainnya (F1-Score 0,944). Analisis temporal menunjukkan
penurunan Vegetasi Alami sebesar ±51 ribu hektar selama 2019–2025, dengan 86,4%
area terbuka beralih menjadi Agrikultur Lainnya. Pola pembukaan lahan
terkonsentrasi pada transisi Semester 2 ke Semester 1 (November–April) dengan
laju di atas 10.000 ha per transisi sejak tahun 2022, konsisten dengan data KKI
Warsi sebagai validasi eksternal.