Abstrak


Membebaskan Perempuan dari Tirani Para Tuan: Performativitas Penonton Perempuan Konser “Dara Setara” Sebagai Transgresi dalam Menciptakan Ruang Aman pada Pertunjukan Musik


Oleh :
Rafael Alif Hidayatullah - D0322093 - Fak. ISIP

Ekosistem pertunjukan musik rock sering kali didominasi oleh nilai maskulinitas yang membatasi kebebasan berekspresi perempuan. Penelitian ini bertujuan mengkaji tindakan perempuan penonton pertunjukan musik “Dara Setara” sebagai bentuk transgresi kultural dalam menegosiasikan ekspresi diri dan menciptakan ruang aman dengan berlandaskan pada teori performativitas oleh Judith Butler. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi nonpartisipatoris, studi dokumentasi, dan wawancara mendalam dengan para penonton perempuan konser “Dara Setara”. Pengujian validitas data dilakukan melalui triangulasi data dan metode yang kemudian dianalisis menggunakan teknik Phenomenological Data Analysis (FDA) rumusan Clark Moustakas yang meliputi epoche, reduksi fenomenologis, variasi imajinatif, dan sintesis. Temuan penelitian menunjukkan bahwa kehadiran ruang alternatif khusus perempuan (women-only space) memfasilitasi agensi perempuan melalui pergeseran orientasi ruang aman dari safe from menuju safe to dalam mengekspresikan diri pada pertunjukan musik. Pergeseran tersebut berlanjut ketika penonton perempuan berada di tengah konser dengan kerumunan campuran (mixed crowd). Pada ruang tersebut, penonton perempuan tetap menjalankan agensinya melalui beragam bentuk ekspresi diri, yang diwujudkan melalui negosiasi dalam berinteraksi serta penyesuaian terhadap cara menempatkan diri yang mereka pilih di ruang konser. Keberlanjutan praktik tersebut menunjukkan bahwa batas-batas yang sebelumnya membatasi ekspresi perempuan tidak lagi diterima sebagai sesuatu yang harus sepenuhnya dipatuhi. Praktik tersebut merupakan bentuk transgresi yang menginterupsi norma maskulin yang selama ini mendominasi sekaligus mendefinisikan kembali batas-batas ekspresi tubuh perempuan dalam skena pertunjukan musik rock. Penelitian ini menunjukkan bahwa ruang aman bukanlah kondisi yang bersifat tetap. Ruang aman terus dibentuk dan dipelihara secara kolektif melalui aturan yang diterapkan promotor, komunikasi edukatif dari musisi, dan solidaritas antarpenggemar. Ketiga unsur tersebut terus menyesuaikan diri dengan kebutuhan dan situasi yang muncul, sehingga ruang aman selalu berada dalam proses menjadi (becoming).