Abstrak
Program Troopers PT Pertamina (Persero): Strategi Komunikasi Internal untuk Membangun Employee Advocacy
Oleh :
Rakan Khaizuran Farrel Ws - D0222102 - Fak. ISIP
Penelitian ini menganalisis Program Troopers PT Pertamina (Persero) sebagai strategi komunikasi internal dalam membangun employee advocacy. Program Troopers merupakan komunitas pekerja Pertamina yang secara sukarela memanfaatkan media sosial pribadi untuk menyebarkan konten positif mengenai perusahaan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus tunggal dan melibatkan tujuh informan yang dipilih secara purposif, terdiri atas pengelola program dan anggota aktif Troopers. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam dan analisis dokumen yang berkaitan dengan pengelolaan komunikasi korporat. Analisis penelitian menggunakan Internal Communication Matrix dari Welch dan Jackson (2007) serta Organizational Culture Theory dalam perspektif komunikasi organisasi dari Pacanowsky dan O’Donnell-Trujillo. Hasil penelitian menunjukkan bahwa strategi komunikasi internal Program Troopers bersifat adaptif dan bertingkat. Koordinasi dilakukan melalui komunikasi formal dan informal dengan memberikan ruang kreativitas kepada anggota tanpa menetapkan template konten yang kaku. Anggota Troopers merespons komunikasi internal secara beragam namun cenderung positif, serta memaknai partisipasi sebagai bentuk kebanggaan dan identitas sebagai bagian dari perusahaan. Pemaknaan tersebut mendorong munculnya tindakan sukarela yang melampaui kewajiban formal program, termasuk dukungan terhadap perusahaan melalui media sosial. Sementara itu, batasan komunikasi yang berkaitan dengan nilai perusahaan, HSSE, dan perlindungan reputasi dikelola melalui sosialisasi berlapis, pemahaman terhadap norma komunikasi, regulasi diri, serta pengawasan dan pengingat antar sesama anggota. Dalam perspektif Organizational Culture Theory, praktik tersebut menunjukkan bahwa batasan komunikasi tidak hanya berfungsi sebagai aturan formal, tetapi berkembang menjadi norma yang dipahami dan dipraktikkan dalam interaksi komunitas. Secara keseluruhan, penelitian ini menemukan adanya paradoks informalitas, yaitu struktur program yang formal berjalan efektif melalui mekanisme komunikasi informal, kedekatan komunitas, otonomi anggota, dan partisipasi yang bersifat sukarela.