Abstrak
STUDI FENOMENOLOGI SELF-EMPOWERMENT PADA SISWA DENGAN LATAR BELAKANG KERENTANAN PSIKOSOSIAL DI SMK NEGERI 9 SURAKARTA
Oleh :
Husna Afifah - K3122039 - Fak. KIP
Husna Afifah. K3122039. Pembimbing I: Adi Dewantoro, M.Pd. STUDI
FENOMENOLOGI SELF-EMPOWERMENT PADA SISWA DENGAN LATAR
BELAKANG KERENTANAN PSIKOSOSIAL DI SMK NEGERI 9
SURAKARTA. Tugas Akhir, Surakarta: Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan
Universitas Sebelas Maret Surakarta, Juli 2026
Self-empowerment penting bagi perkembangan siswa, tetapi tidak semua
siswa mampu mengembangkannya secara optimal. Salah satu kondisi yang dapat
menghambat perkembangan diri siswa adalah kerentanan psikososial. Namun,
terdapat beberapa siswa dengan kerentanan psikososial tetap mampu mengembangkan
self-empowerment. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan makna self
empowerment pada siswa dengan latar belakang kerentanan psikososial. Penelitian
menggunakan pendekatan kualitatif metode fenomenologi dengan desain Descriptive
Phenomenological Analysis (DPA). Subjek terdiri dari tiga siswa SMK Negeri 9
Surakarta dengan inisial AIC, ZNA, HSP yang dipilih melalui purposive sampling
berdasarkan kriteria siswa aktif di sekolah (kehadiran), memiliki latar belakang
kerentanan psikososial (disfungsi emosi, ketidaksesuaian jurusan, disabilitas fisik, dan
riwayat konflik interpersonal), serta menunjukkan self-empowerment melalui
pengembangan diri (partisipasi kegiatan / organisasi, pengembangan prestasi, dan
memperbaiki relasi). Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam semi
terstruktur dan studi dokumentasi. Data yang telah dikumpulkan kemudian divalidasi
menggunakan member check. Teknik analisis data dilakukan melalui tahapan epoche,
variasi imajinasi, serta sintesis makna dan esensi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa
ketiga subjek memaknai self-empowerment sebagai kemampuan mengembangkan
potensi diri, menghadapi tantangan, dan mencapai tujuan. Masing-masing subjek
menunjukkan pola self-empowerment yang berbeda, AIC menunjukkan pengendalian
emosi dan pemanfaatan dukungan sosial (orang tua, teman, dan guru), ZNA melalui
keyakinan terhadap kemampuan diri dan pengembangan prestasi (lomba renang)
meskipun memiliki disabilitas fisik, sedangkan HSP melalui perubahan perilaku
(memperbaiki kehadiran di sekolah) dan tindakan nyata (belajar desain untuk
mencapai cita-cita menjadi desainer). Saran bagi Guru BK dapat mengembangkan
layanan yang mendukung self-empowerment siswa. Peneliti selanjutnya dapat
mengembangkan penelitian mengenai self-empowerment pada kelompok subjek yang
lebih beragam serta menggunakan pendekatan penelitian yang berbeda.