;

Abstrak


PERBEDAAN PENGARUH LATIHAN DIAPHRAGMATIC BREATHINGDAN LATIHAN BALLOON BLOWING TERHADAP KAPASITAS PARUPADA PELARI UNS DITINJAU DARI USIA


Oleh :
Rofi' Nurul 'aini - A122308011 - Fak. Keolahragaan

ABSTRAKPenelitian ini dilaksanakan untuk melihat bagaimana dua jenis latihan pernapasan Diaphragmatic Breathing dan Balloon Blowing dapat memengaruhi kapasitas paru para pelari Universitas Sebelas Maret (UNS). Ketertarikan terhadap topik ini muncul karena banyak pelari mengeluhkan sulit mempertahankan performa pada bagian akhir lari, yang diduga berkaitan dengan kemampuan paru yang belum optimal. Selain itu, adanya perbedaan capaian antara pelari yang masih di bawah 19 tahun dengan yang berusia lebih dari 19 tahun membuat faktor usia penting untuk dianalisis.Penelitian menggunakan rancangan eksperimen faktorial dengan dua kelompok usia dan dua jenis latihan yang diberikan selama empat minggu. Seluruh peserta menjalani pengukuran spirometri sebelum dan setelah program selesai, dengan fokus pada parameter seperti FVC, FEV1, dan FEV1/FVC. Dari hasil pengolahan data, tampak bahwa kedua jenis latihan memberi peningkatan, namun karakter pengaruhnya tidak sama. Latihan Diaphragmatic Breathing cenderung membantu memperbaiki cara bernapas secara keseluruhan, sementara Balloon Blowing lebih terasa pada peningkatan kekuatan hembusan napas. Usia juga ternyata berkaitan erat dengan seberapa besar adaptasi yang muncul; peserta usia lebih muda menunjukkan perkembangan yang lebih cepat dan lebih besar dibandingkan kelompok usia yang lebih tua. Selain itu, kombinasi antara jenis latihan dan usia menghasilkan perbedaan respons yang cukup jelas.Secara keseluruhan, temuan ini memberikan gambaran bahwa program latihan pernapasan sebaiknya tidak dibuat seragam untuk semua pelari. Penyesuaian berdasarkan usia dan kebutuhan fisiologis masing-masing atlet tampaknya lebih efektif untuk meningkatkan kemampuan paru dan performa lari.