Abstrak
Komposisi Diet Owa Jawa (Hylobates moloch, Audebert 1798) di Hutan Sekunder Pegunungan Dieng: Pendekatan Analisis Metabarcoding dan Survei Lapangan
Oleh :
Tri Setia Kurnia Nuri - S902302006 - Fak. MIPA
Degradasi hutan telah mengubah struktur dan komposisi vegetasi yang memengaruhi owa jawa (Hylobates moloch, Audebert 1798) untuk beradaptasi terhadap perubahan ketersediaan pakan. Memahami komposisi diet memberikan informasi dasar yang penting untuk menilai viabilitas populasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengarakterisasi komposisi diet owa jawa pada habitat hutan sekunder Pegunungan Dieng; menganalisis komposisi, struktur dan kelimpahan vegetasi habitat sebagai sumber pakan potensial; mengevaluasi hubungan antara komposisi diet dengan ketersediaan vegetasi untuk mengungkap pola pemilihan pakan; merumuskan rekomendasi strategi restorasi habitat dan konservasi owa jawa berdasarkan komposisi diet dan ketersediaan vegetasi di hutan sekunder Pegunungan Dieng. Sembilan sampel feses dikumpulkan pada awal musim kemarau dan digabung menjadi lima sampel komposit untuk kemudian diekstraksi, diamplifikasi dengan primer rbcL, dan sekuensing NGS. Hasil sekuensing kemudian dikonfirmasi silang dengan metode PCQ serta wawancara etnobiologi. Analisis NGS menghasilkan 101 Amplicon Sequence Variants (ASVs), yang mewakili 28 ordo, 47 famili, 64 genus dan 64 spesies. Dari 47 famili tersebut, 40,43% (19 famili) keberadaannya terkonfirmasi sepenuhnya baik oleh analisis vegetasi PCQ maupun wawancara lokal. Meskipun survei lapangan mengidentifikasi lebih dari 40% spesies pohon, data NGS mengungkapkan relung pakan yang lebih terspesialisasi. Survei lapangan secara efektif menangkap sumber-sumber diet berupa pohon yang penting, sementara metabarcoding melengkapi temuan tersebut dengan mengidentifikasi taksa non-kayu, langka dan tumbuhan bawah yang umumnya tidak tercakup dalam plot pohon konvensional. Tiga taksa yang paling melimpah berdasarkan Relative Read Abundance (RRA) dari NGS, yaitu Ficus benjamina, famili Moraceae, dan Gnetum spp. Penelitian ini mengonfirmasi bahwa owa jawa mempertahankan sifat ekologis aslinya sebagai satwa frugivora arboreal dengan ketergantungan yang tinggi terhadap genus Ficus, analisis vegetasi habitat menunjukkan keanekaragaman jenis vegetasi yang tinggi dengan beberapa takson tertentu mendominasi secara mengelompok, data analisis metabarcoding NGS mengonfirmasi komposisi diet yang jauh lebih luas dan sensitif dibandingkan analisis vegetasi dan wawancara. Strategi restorasi habitat perlu memerhatikan variasi fenologi, pemulihan sumber diet utama dan perlindungan kanopi hutan yang saling terhubung sebagai bagian dari ruang gerak mereka yang esensial.