Abstrak


KRITIK SENI KARYA SENI GRAFIS AAN YULIYANTO PADA PERIODE BUNGA CANGKANG


Oleh :
Shafira Hilda Amalia - C0622048 - Fak. Seni Rupa dan Desain

Shafira Hilda Amalia, C0622048, 2026, Kritik Seni Karya Seni Grafis Aan Yuliyanto pada Periode Bunga Cangkang, Skripsi S-1 (Minat Pengkajian Seni), Program Studi Seni Rupa, Fakultas Seni Rupa dan Desain, Universitas Sebelas Maret.Penelitian ini dilatarbelakangi oleh masih terbatasnya kajian kritik seni terhadap karya seni grafis kontemporer di Indonesia, khususnya karya Aan Yuliyanto pada periode Bunga Cangkang. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan karakteristik visual karya, mengungkap gagasan artistik dan makna simbolik, serta menganalisis nilai artistik karya berdasarkan pendekatan kritik seni Edmund Burke Feldman (Feldman, 1992). Penelitian menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif-analitis. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara mendalam dengan seniman, dokumentasi, dan studi pustaka, kemudian dianalisis menggunakan tahapan kritik seni Feldman yang meliputi deskripsi, analisis formal, interpretasi, dan evaluasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa periode Bunga Cangkang (2020–2026) merupakan fase penting dalam perjalanan berkarya Aan Yuliyanto yang lahir di tengah situasi krisis pandemi Covid-19. Ditandai oleh penggunaan teknik cetak tinggi (linocut) manual berformat miniprint, garis kontur tegas, stilisasi bentuk, serta keberadaan simbol cangkang bekicot sebagai identitas visual yang konsisten. Analisis terhadap enam karya, yaitu Stationary #1, Stationary #2, Green Home, Jus Pasir, Mem-bijak, dan Flying Lotus menunjukkan bahwa simbol cangkang bekicot memiliki makna yang dinamis, sebagai metafora atas kemampuan adaptasi manusia di masa sulit. Makna tersebut mencakup proses belajar di ruang domestik, kesadaran pelestarian lingkungan, adaptasi kebersamaan sosial warga desa melalui kerja bakti, penyesuaian terhadap teknologi pertanian di tengah krisis buruh tani, hingga dorongan psikologis untuk jeda sejenak dari penatnya situasi sosial-politik negara. Nilai artistik karya tercermin dari penguasaan teknik pencukilan, pengolahan unsur visual yang komunikatif, serta keberhasilan memadukan isu-isu personal maupun sosial menjadi bahasa visual yang utuh.