Abstrak
BUDIDAYA TANAMAN CAISIM (Brassica juncea L.) MENGGUNAKAN HORMON GSA (GIBERELIN, SITOKININ, AUKSIN)
Oleh :
Mufiid Ikhlas Dafa Pangayoman - V4123060 - Sekolah Vokasi
Berdasarkan
laporan tugas akhir ini, budidaya tanaman caisim (Brassica juncea L.) menggunakan
hormon GSA (giberelin, sitokinin, dan auksin) dilakukan sebagai upaya
meningkatkan pertumbuhan tanaman sekaligus menilai kelayakan usahataninya,
mengingat tingginya permintaan caisim dan pentingnya peningkatan produktivitas.
Landasan teori menjelaskan bahwa kombinasi hormon GSA berperan secara sinergis
dalam merangsang pembelahan dan pemanjangan sel, pembentukan akar, serta
pertumbuhan vegetatif, sehingga berpotensi meningkatkan kualitas dan hasil
tanaman caisim. Pelaksanaan budidaya dilakukan selama 45 hari melalui tahapan
pembuatan hormon GSA dari bahan alami, persiapan media tanam, penyemaian,
penanaman, pemeliharaan, pengendalian hama, hingga panen dengan pengamatan
terhadap tinggi tanaman, lebar daun, jumlah daun, dan bobot segar. Hasil pengamatan
menunjukkan bahwa pemberian GSA meningkatkan pertumbuhan tinggi tanaman dengan
rata-rata 30,32 cm dibandingkan kontrol 26,00 cm, sedangkan bobot segar
perlakuan mencapai 123,53 g dibandingkan kontrol 109,45 g dan hasil penelitian
terdahulu sebesar 129,45 g. Namun, pemberian GSA belum meningkatkan jumlah daun
dan lebar daun karena masing-masing menghasilkan 9,95 helai dan 9,87 cm, lebih
rendah dibandingkan kontrol sebesar 11,30 helai dan 11,27 cm, yang diduga
berkaitan dengan dominansi pertumbuhan vertikal tanaman. Dari aspek pemasaran,
caisim dipasarkan dalam kemasan 250 gram per ikat dengan harga Rp4.500,
ditujukan kepada ibu rumah tangga, toko sayuran, dan mahasiswa melalui
penjualan langsung, penitipan produk, COD, serta promosi media sosial. Secara
ekonomi, usahatani menghasilkan penerimaan Rp871.200, total biaya Rp688.224,
dan keuntungan Rp182.976 dengan nilai R/C Ratio 1,27 serta B/C Ratio 0,27,
sehingga usaha dinilai efisien, menguntungkan, dan layak dijalankan. Analisis
BEP menunjukkan titik impas produksi sebesar 153 ikat atau 38,23 kg dan BEP
harga Rp3.555 per ikat, sedangkan produksi aktual mencapai 48,4 kg dengan harga
jual Rp4.500 per ikat sehingga telah melampaui titik impas.