Abstrak


MITOS BARU DALAM PENGEMBANGAN IDENTITAS KOTA LAMONGAN SEBAGAI INVENSI PROTOTYPE MATA KULIAH SASTRA LISAN DI PERGURUAN TINGGI (PENDEKATAN KOMUNIKASI AUTOPOIESIS)


Oleh :
Bisarul Ihsan - T842302003 - Fak. KIP

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh kekayaan mitos lokal di Kabupaten Lamongan yang tidak hanya hidup sebagai narasi tradisional, tetapi juga mengalami transformasi menjadi bagian dari sistem sosial dan identitas budaya masyarakat. Dalam penelitian ini, mitos baru didefinisikan sebagai mitos yang terbentuk melalui proses reinterpretasi, rekonstruksi, atau adaptasi terhadap mitos tradisional sehingga memperoleh fungsi, makna, dan konteks baru sesuai dengan kebutuhan masyarakat kontemporer. Berbeda dengan mitos lama yang diwariskan secara turun-temurun dan cenderung mempertahankan bentuk narasi serta fungsi sakralnya, mitos baru dicirikan oleh adanya modifikasi cerita, perubahan fungsi sosial, pemanfaatan sebagai identitas budaya, media promosi daerah, maupun penguatan nilai-nilai lokal. Namun, dalam perkembangan kontemporer, mitos-mitos tersebut juga mengalami pergeseran makna sebagai cerita lisan, praktik sosial, dan simbol budaya sehingga diperlukan kajian yang mampu memetakan bentuk perwujudan, nilai, serta pemanfaatannya secara akademik. Di sisi lain, kebutuhan pengembangan buku ajar sastra lisan di perguruan tinggi menuntut adanya inventarisasi dan reinterpretasi mitos lokal agar tetap relevan dengan konteks pendidikan modern.Penelitian ini bertujuan untuk: (1) mendeskripsikan dan menjelaskan perwujudan mitos dalam pengembangan identitas kota Lamongan; (2) mendeskripsikan dan menjelaskan mekanisme reproduksi makna mitos baru melalui komunikasi autopoesis; dan (3) mendeskripsikan dan menjelaskan pemanfaatan mitos baru Lamongan sebagai invensi Prototype buku ajar maota kuliah Sastra Lisan di perguruan tinggi. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan perspektif kajian sastra lisan dan Etnografi. Sumber data penelitian meliputi berbagai mitos Lamongan yang berjumlah 18 mitos. Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa (1) perwujudan mitos dalam pengembangan identitas kota Lamongan hadir dalam tiga bentuk, yaitu cerita rakyat, praktik sosial, dan simbol budaya, yang berfungsi mempertahankan identitas kolektif serta nilai sosial, religius, dan budaya masyarakat; (2) reproduksi makna mitos baru melalui komunikasi autopoiesis berlangsung melalui enam tahapan, yaitu produksi makna, seleksi makna, reinterpretasi, legitimasi, reproduksi makna melalui praktik sosial, dan pembentukan mitos baru, sehingga mitos terus mengalami pemaknaan sesuai dinamika masyarakat; dan (3) mitos baru Lamongan memiliki potensi strategis sebagai invensi prototype buku ajar Sastra Lisan di perguruan tinggi karena memuat narasi dan nilai budaya yang kontekstual serta dapat mendukung capaian pembelajaran melalui kegiatan observasi, rekonstruksi naratif, dan analisis budaya. Dengan demikian, reproduksi mitos baru melalui komunikasi autopoiesis tidak hanya memperkuat identitas budaya Lamongan, tetapi juga menghasilkan sumber pembelajaran Sastra Lisan yang kontekstual dan berkelanjutan.