Abstrak


PERKEMBANGAN PEMASARAN PASTRY DAN BAKERY DI SURAKARTA 1873-1942


Oleh :
Defriza Putri Wilarko - B0421015 - Fak. Ilmu Budaya

Masuknya pengaruh Eropa ke Hindia Belanda tidak hanya membawa perubahan dalam bidang politik dan ekonomi tetapi juga pada bidang kuliner yang memengaruhi pola konsumsi masyarakat. Pastry dan Bakery merupakan salah satu unsur penting dalam perkembangan budaya kuliner masyarakat kolonial, khususnya di Surakarta. Penelitian ini bertujuan untuk (1) mengetahui bagaimana perkembangan pemasaran pastry dan bakery di Surakarta tahun 1873-1942; (2) mengetahui bagaimana proses pastry dan bakery menjadi bagian dari budaya kuliner masyarakat Surakarta pada tahun 1873–1942. Penelitian ini menggunakan metode sejarah yang terdiri dari lima tahapan, yaitu pemilihan topik, heuristik, kritik sumber, interpretasi dan historiografi. Sumber yang digunakan terdiri atas sumber primer seperti surat kabar, buklet serta majalah sezaman seperti surat kabar De Nieuwe Vorstelanden, De Locomotief, Dokumen-dokumen tersebut didapatkan dari situs daring Delpher, situs daring Khastara Perpusnas serta penulusuran arsip dengan menemui komunitas Solo Ngarsip. Sumber sekunder diperoleh dari buku-buku, artikel jurnal ilmiah, skripsi, tesis, serta karya ilmiah yang relevan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perkembangan pastry dan bakery di Surakarta berlangsung seiring dengan masuknya bahan-bahan impor serta berkembangnya budaya konsumsi masyarakat pada masa kolonial. Perkembangan tersebut dapat dibagi menjadi dua periode. Pada periode pertama yaitu 1873 hingga 1928, usaha pastry dan bakery didominasi oleh pengusaha Belanda yang mendirikan berbagai banketbakkerij untuk memenuhi kebutuhan masyarakat Eropa di Surakarta. Memasuki periode kedua yakni 1929 hingga 1942, pengusaha Tionghoa dan Bumiputra mulai berpartisipasi dalam pengembangan usaha pastry dan bakery sehingga memperluas jaringan pemasaran dan distribusi produk. Perkembangan tersebut dibuktikan dengan semakin banyaknya toko roti dan kue, meningkatnya promosi melalui surat kabar dan media cetak, serta munculnya toko-toko yang berperan sebagai pemasok bagi berbagai institusi. Salah satunya adalah Toko Orion yang menjadi leverancier roti bagi sejumlah sekolah di Surakarta, termasuk HIK Muhammadiyah. Temuan tersebut menunjukkan bahwa pemasaran pastry dan bakery tidak lagi terbatas pada kebutuhan masyarakat Eropa, tetapi telah menjangkau lingkungan pendidikan, berbagai aktivitas masyarakat perkotaan, serta menjadi bagian dari pola konsumsi masyarakat Surakarta. Berdasarkan hasil penelitian tersebut, dapat disimpulkan bahwa perkembangan pastry dan bakery di Surakarta berlangsung melalui dua tahapan yang ditandai oleh perubahan pelaku usaha, dari dominasi pengusaha Belanda menuju keterlibatan pengusaha Tionghoa dan Bumiputra yang memperluas pemasaran produk. Selain itu, pastry dan bakery mengalami perubahan dari makanan yang pada awalnya bersifat eksklusif dan dikonsumsi oleh masyarakat Eropa menjadi makanan inklusif yang dikonsumsi oleh berbagai lapisan masyarakat, termasuk masyarakat Bumiputra melalui lingkungan pendidikan, aktivitas perkotaan, dan kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, pastry dan bakery secara bertahap menjadi bagian dari budaya kuliner masyarakat Surakarta pada akhir masa kolonial.