Abstrak


Representasi Sosiokultural Masyarakat Betawi dalam Karya-Karya Firman Muntaco Tahun 1955-1993


Oleh :
Salsabila Dharma Putri - B0421062 - Fak. Ilmu Budaya

Masyarakat Betawi sebagai penduduk asli Jakarta mengalami tantangan sosial akibat modernisasi, urbanisasi, serta pembangunan Jakarta sebagai ibukota negara secara masif. Hal ini dirasakan oleh Firman Muntaco, salah satu sastrawan dan pelaku budaya Betawi, yang berinisiasi menghadirkan karya-karya tulisnya sebagai media untuk menuangkan pemikirannya berupa gambaran kehidupan sosial masyarakat Betawi di Jakarta dalam kurun waktu tahun 1955-1999. Penelitian ini bertujuan untuk (1) mengetahui latar belakang kehidupan Firman Muntaco serta pengaruh terhadap pandangan sosial dan budaya, serta (2) realitas sosial masyarakat Betawi yang direpresentasikan melalui karya-karya Firman Muntaco. Penelitian ini menggunakan metode sejarah yang terdiri dari lima tahapan, yakni pemilihan topik, heuristik (pengumpulan sumber), verifikasi (kritik sumber), interpretasi, dan historiografi. Dengan memanfaatkan sumber sezaman sebagai sumber utama, penelitian ini menggunakan pemberitaan dalam surat kabar yang terbit mingguan dan majalah. Diantaranya surat kabar Berita Minggu, Berita Buana, Pos Kota, Kompas, dan Suara Pembaruan, serta majalah Star Weekly. Selain itu, penulis juga melakukan wawancara kepada salah satu dari keluarga pengarang dan rekan sezaman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa latar belakang Firman Muntaco sebagai bagian dari masyarakat Betawi memengaruhi pandangan sosiokultural yang tercermin dalam karya-karyanya. Hal ini membuat Firman Muntaco mampu menghadirkan berbagai persoalan sosial yang dihadapi di Jakarta, khususnya bagi masyarakat Betawi secara realistis. Representasi sosiokultural masyarakat Betawi dalam karya-karyanya terlihat melalui penggunaan Bahasa Betawi serta isu-isu sosial yang meliputi berbagai stereotip yang berkembang mengenai masyarakat Betawi. Firman Muntaco sebagai pelaku budaya juga berperan aktif dalam pelestarian dan kebudayaan Betawi melalui pendirian sanggar sebagai wadah pembinaan kesenian dan kebudayaan Betawi.