Abstrak
UPAYA PENCEGAHAN ESKALASI KONFLIK PADA SISWA SMA BATIK 1 SURAKARTA
Oleh :
Intan Nur Istiqomah - K8422041 - Fak. KIP
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan dan menganalisis cara siswa mencegah sera mencapai resolusi konflik di SMA Batik 1 Surakarta. Latar belakang dari penelitian ini didasarkan pada tingginya angka kekerasan dan potensi pelanggaran di lingkungan sekolah tingkat menengah atas, khususnya di Provinsi Jawa Tengah. Pendekatan yang digunakan adalah kualitatif. Teknik pengambilan sampel menggunakan teknik cluster sampling dengan 18 siswa yang masih aktif belajar di SMA Batik 1 Surakarta serta diperkuat dengan informan pendukung dari guru BK. Teknik pengumpulan data menggunakan wawancara. Uji validitas data menggunakan triangulasi sumber, sedangkan analisis data menggunakan Miles dan Huberman yang mencakup reduksi data, penyajian data dan penarikan Kesimpulan. Penelitian ini menggunakan teori konflik Lewis Coser. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa siswa memahami konflik sebagai bagian dari dinamika interaksi sosial dengan konflik realistis. Siswa memahami konflik sebagai bagian dari interaksi sosial dengan sumber konflik realistis seperti perebutan fasilitas dan kekuasaan serta konflik non-realistis seperti luapan emosi, gengsi dan validasi sosial. Eskalasi terjadi karena kesalahpahaman komunikasi, pengaruh sosial media dan pertemanan. Upaya pencegahan dilakukan siswa dengan mengendalikan emosi, menjaga batasan diri, dan membangun hubungan inklusif, di mana teman sebaya dan Guru BK berperan penting sebagai katup penyelamat melalui fungsi penenang emosional dan mediator informal. Resolusi konflik ditempuh melalui jalur dialog/musyawarah mandiri dan mediasi formal melalui layanan BK dan kesiswaan. Penelitian ini memperkaya Teori Lewis A. Coser bahwa konflik yang dikelola secara tepat dapat berfungsi secara konstruktif untuk memperjelas norma sosial, memperkuat solidaritas, dan menata ulang struktur sosial demi mewujudkan lingkungan sekolah yang kondusif, inklusif, aman, dan harmonis. Penelitian ini memperkaya Teori Lewis Coser bahwa konflik yang dikelola secara tepat dapat berfungsi untuk memperjelas norma sosial, memperkuat solidaritas, dan menata ulang struktur sosial untuk mewujudkan lingkungan sekolah yang kondusif, inklusif, aman dan harmonis.