Abstrak


LEARNING TRAJECTORY DENGAN PENDEKATAN CULTURALLY RESPONSIVE TEACHING MELALUI PERMAINAN TRADISIONAL CONGKLAK PADA MATERI BARISAN DAN DERET ARITMATIKA


Oleh :
Amanda Lingga Salsabila - K1322012 - Fak. KIP

Amanda Lingga Salsabila. K1322012. Pembimbing: Dr. Laila Fitriana, S.Pd., M.Pd. Learning Trajectory dengan Pendekatan Culturally Responsive Teaching melalui Permainan Tradisional Congklak pada Materi Barisan dan Deret Aritmatika. Skripsi. Surakarta: Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Sebelas Maret Surakarta, Juni 2026.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui learning trajectory pada materi beda suku, suku ke-n, suku tengah barisan aritmatika, dan deret aritmatika dengan menggunakan permainan tradisional congklak melalui pendekatan Culturally Responsive Teaching (CRT). Penelitian ini merupakan penelitian design research dengan pendekatan kualitatif. Subjek penelitian adalah sembilan siswa kelas X-G dalam pelaksanaan Pilot Experiment dan seluruh siswa kelas X-I SMA Negeri 7 Surakarta dalam pelaksanaan Teaching Experiment. Teknik pengumpulan data yang digunakan meliputi observasi, wawancara, dan perekaman video pembelajaran. Validitas data diuji melalui triangulasi metode, sedangkan analisis data dilakukan melalui tiga tahapan, yakni reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan.Hasil penelitian menunjukkan bahwa learning trajectory yang dihasilkan memuat empat lintasan belajar. Pertama, pada konsep beda barisan aritmatika, siswa mengamati perubahan jumlah biji congklak antarlubang untuk menemukan bahwa beda merupakan selisih antarsuku berurutan yang bernilai tetap. Kedua, pada konsep suku ke-n, siswa membangun pola melalui penjumlahan berulang antara suku pertama dan beda hingga menggeneralisasikannya ke dalam rumus umum. Ketiga, pada konsep suku tengah, siswa menentukan posisi tengah berdasarkan banyaknya lubang congklak, membedakan kondisi banyak suku ganjil dan genap, kemudian menemukan rumus umum suku tengah. Keempat, pada konsep deret aritmatika, siswa melakukan penjumlahan manual, memasangkan suku pertama dengan suku terakhir, menemukan kesamaan jumlah setiap pasangan, lalu menggeneralisasikannya ke dalam rumus deret aritmatika. Hasil retrospective analysis menunjukkan bahwa HLT awal perlu direvisi berdasarkan respons dan strategi siswa sehingga diperoleh learning trajectory akhir yang lebih sesuai dengan alur berpikir siswa. Pendekatan CRT melalui permainan tradisional congklak memberi ruang bagi siswa untuk membangun konsep matematika dari aktivitas konkret menuju representasi simbolik secara bertahap.