Abstrak


Makna Simbolik Bentuk dan Ornamen Hulu Keris Gaya Surakarta Koleksi Museum Keris Nusantara di Surakarta


Oleh :
Martina Noni Nurhati - K3220041 - Fak. KIP

Martina Noni Nurhati. K3220041. Pembimbing: Prof. Dr. Slamet Supriyadi M.Pd. MAKNA SIMBOLIK BENTUK DAN ORNAMEN HULU KERIS GAYA SURAKARTA KOLEKSI MUSEUM KERIS NUSANTARA DI SURAKARTA. Skripsi, Surakarta: Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Sebelas Maret Surakarta, Juli 2026.Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bentuk dan ornamen serta menganalisis makna simbolik pada bentuk dan ornamen hulu keris gaya Surakarta koleksi Museum Keris Nusantara di Surakarta, khususnya pada koleksi Nunggak Semi Yudawinatan nomor 0559, Putri Kinurung nomor 0602, dan Narada Kandha nomor 0770. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif deskriptif. Strategi pengambilan sampel dilakukan melalui teknik purposive sampling terhadap koleksi pameran periode Februari–Agustus 2026. Teknik pengumpulan data dilaksanakan melalui observasi langsung objek, dokumentasi visual, serta wawancara semi-terstruktur bersama pengurus SNKI, kurator, edukator museum, dan perajin hulu keris (mranggi) Surakarta. Validitas data diuji melalui triangulasi sumber dan triangulasi teknik, sedangkan analisis data diterapkan menggunakan model interaktif Miles dan Huberman yang meliputi reduksi data, penyajian data, serta penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara visual bentuk dan ornamen: (1) Hulu Nunggak Semi Yudawinatan berbahan gading menampilkan siluet ramping menunduk dengan ornamen cecekan patra simetris, (2) Hulu Putri Kinurung memiliki ciri khas jalinan lung-lungan rapat berbentuk pola geometris segitiga yang membungkus pangkal huli, dan (3) Hulu Narada Kandha menampilkan wujud antropomorfik masif figur Bathara Narada dengan kombinasi ukiran patra khas Surakarta. Kesatuan ragam hias ketiganya secara tradisi diikat oleh pakem ornamen Raja Kolopati. Secara simbolik, Nunggak Semi menyimbolkan posisi janin sebagai pengingat spiritual (sangkan paraning dumadi), Putri Kinurung melambangkan proteksi suci atas kebaikan diri dan komitmen pelindungan abdi dalem terhadap rahasia pemimpin maupun pemiliknya, sedangkan Narada Kandha merepresentasikan kebajikan moral, keteguhan menyuarakan kebenaran, serta keselarasan kekuasaan dengan keteduhan spiritual. Hulu keris bertindak sebagai arketipe "tunggangan roh" yang memiliki hubungan kesemiripan (resemblance) dengan tradisi menhir prasejarah, di mana pola visualnya yang simetris merepresentasikan dualisme kesetimbangan hidup, serta berfungsi sebagai media sugesti visual positif dan penepis paradigma mistis klenik di masyarakat.