Abstrak
Budidaya Tanaman Kangkung Darat (Ipomoea reptans) dengan Menggunakan Pupuk Kandang di Lahan Pekarangan
Oleh :
Chelsea Nazya Paramita - V4123102 - Sekolah Vokasi
Budidaya tanaman
kangkung darat (Ipomoea reptans) dilakukan sebagai salah satu upaya
untuk menghasilkan tanaman yang dapat dibudidayakan secara sederhana di lahan
pekarangan dengan biaya yang lebih terjangkau. Salah satu permasalahan dalam
budidaya tanaman adalah tingginya biaya pemupukan, terutama apabila menggunakan
pupuk kimia secara terus-menerus. Penggunaan pupuk kotoran hewan seperti pupuk kandang
sapi, ayam, dan kambing dapat menjadi alternatif untuk mengurangi biaya
pemupukan sekaligus menyediakan unsur hara yang dibutuhkan tanaman untuk
mendukung pertumbuhan dan produktivitas kangkung darat.Kegiatan ini
dilaksanakan di lahan pekarangan Desa Jabung, Kecamatan Panekan, Kabupaten
Magetan selama dua bulan. Proses budidaya diawali dengan pengolahan lahan,
pembuatan bedengan, pemberian pupuk dasar berupa pupuk kotoran sapi, ayam, dan
kambing, kemudian dilanjutkan dengan penanaman benih, pemeliharaan,
pengendalian hama, panen, dan pascapanen. Pengamatan dilakukan setiap minggu
terhadap 20 tanaman sampel dengan mengukur tinggi tanaman dan panjang daun.
Selain itu, dilakukan analisis usahatani untuk mengetahui kelayakan ekonomi
dari kegiatan budidaya yang dilaksanakan. Kondisi lingkungan selama budidaya
menunjukkan suhu, kelembapan, dan intensitas cahaya yang sesuai untuk
pertumbuhan kangkung darat. Pertumbuhan tanaman mengalami peningkatan secara
konsisten pada setiap minggu pengamatan. Rata-rata tinggi tanaman mencapai
22,52 cm pada umur 28 hari setelah tanam. Rata-rata panjang daun juga meningkat
hingga mencapai 13,8 cm pada umur yang sama. Serangan hama yang ditemukan
relatif rendah, yaitu sekitar 5% dari keseluruhan tanaman, sehingga tidak memberikan
pengaruh yang berarti terhadap pertumbuhan maupun hasil panen. Pemanenan
dilakukan pada umur 28 hari setelah tanam ketika tanaman telah memiliki batang
yang memanjang dan daun berwarna hijau segar. Total produksi yang diperoleh
mencapai sekitar 20 kg kangkung segar. Berdasarkan analisis usahatani,
total biaya produksi yang dikeluarkan sebesar Rp126.620, total penerimaan
sebesar Rp130.000, sehingga diperoleh pendapatan sebesar Rp3.380. Nilai R/C
Ratio sebesar 1,02 menunjukkan bahwa usaha budidaya kangkung darat ini layak
untuk dijalankan. Secara keseluruhan, penggunaan pupuk kotoran
hewan mampu mendukung pertumbuhan tanaman, meningkatkan hasil produksi, serta
memberikan keuntungan secara agronomis maupun ekonomis.