Abstrak
STUDI FENOMENOLOGI: PURPOSE IN LIFE PESERTA DIDIK BERPRESTASI DENGAN LATAR BELAKANG CHILD ABUSE KELAS VIII SMP A DI SURAKARTA
Oleh :
Laraswati Permata Bhakti - K3122047 - Fak. KIP
Laraswati
Permata Bhakti. K3122047. Pembimbing I: Dr. Ribut Purwaningrum, M.Pd. STUDI
FENOMENOLOGI: PURPOSE IN LIFE PESERTA DIDIK BERPRESTASI DENGAN LATAR
BELAKANG CHILD ABUSE KELAS VIII SMP A DI SURAKARTA. Tugas Akhir. Surakarta: Fakultas Keguruan dan Ilmu
Pendidikan, Universitas Sebelas Maret, Surakarta, Juli 2026.
Beberapa peserta didik kelas VIII SMP A Surakarta yang menjadi korban child
abuse berupa kekerasan fisik, verbal, dan emosional di lingkungan keluarga
diketahui tetap mampu menunjukkan purpose in life yang tinggi melalui
pencapaian akademik dan non-akademik. Penelitian ini bertujuan untuk (1)
mendeskripsikan pengalaman child abuse yang dialami oleh peserta didik
berprestasi, (2) menggambarkan purpose in life pada peserta didik
berprestasi yang memiliki latar belakang child abuse, serta (3)
mendeskripsikan pemaknaan purpose in life pada peserta didik berprestasi
dengan latar belakang child abuse. Penelitian ini menggunakan pendekatan
kualitatif dengan metode studi fenomenologi transendental menurut Van Kaam
dalam Moustakas. Subjek penelitian terdiri atas tiga peserta didik berprestasi
berlatar belakang child abuse yang dipilih menggunakan teknik purposive
sampling. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam (in-depth
interview) semi-terstruktur. Validitas data diuji menggunakan teknik member
checking. Analisis data dilakukan melalui tahapan epoche (bracketing
dan horizonalization), varian imajinasi (deskripsi tekstural dan
struktural), hingga sintesis makna dan esensi. Hasil penelitian menunjukkan
bahwa: (1) pengalaman child abuse ketiga subjek berpusat di lingkungan
domestik keluarga berupa bentakan, kekerasan fisik, perkataan kasar,
pengungkapan beban finansial, serta sikap selalu dipersalahkan, yang memicu
reaksi fisik (gemetar, sesak napas) dan emosional (sedih, terisolasi), di mana
subjek meresponsnya melalui mekanisme pertahanan diri pasif seperti diam atau
menangis di kamar. (2) purpose in life pada ketiga subjek tergambar
tinggi melalui indikator memiliki tujuan hidup dan keterarahan, keyakinan yang
memberikan tujuan, kemampuan merasakan makna masa lalu-kini, serta memiliki
cita-cita dan sasaran konkret, yang dibuktikan dengan prestasi akademik
konsisten (masuk 5/10 besar) serta keaktifan organisasi sekolah. (3) pemaknaan purpose
in life direkonstruksi secara positif di mana penderitaan masa lalu tidak
dipandang sebagai akhir hidup, melainkan dimaknai sebagai sarana pembebasan
diri, proses pembentukan mental untuk membantu sesama (seperti cita-cita
menjadi psikolog dan dokter hewan), serta bentuk tanggung jawab moral dan wujud
bakti untuk membahagiakan orang tua. Guru Bimbingan dan Konseling disarankan untuk
mengoptimalkan layanan responsif yang berfungsi sebagai ruang aman (safe
space) guna memelihara stabilitas purpose in life, mendampingi
aktualisasi prestasi, serta memfasilitasi pengembangan diri peserta didik
korban child abuse. Peneliti selanjutnya disarankan untuk memperluas
cakupan subjek dan menerapkan metode campuran (mixed methods) guna
mendalami dinamika child abuse dan purpose in life secara lebih
komprehensif.