Abstrak


ANALISIS SPASIAL KERAWANAN BANJIR DAN KESIAPSIAGAAN DI KECAMATAN PASAR KLIWON KOTA SURAKARTA TAHUN 2026


Oleh :
Septia Ari Saputri - K5422079 - Fak. KIP

Septia Ari Saputri. K5422079. Pembimbing: Dr. Rita Noviani, S.Si., M.Sc. ANALISIS SPASIAL KERAWANAN BANJIR DAN KESIAPSIAGAAN DI KECAMATAN PASAR KLIWON KOTA SURAKARTA TAHUN 2026. Skripsi, Surakarta: Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret Surakarta, Juli 2026.Kecamatan Pasar Kliwon Kota Surakarta merupakan salah satu wilayah yang memiliki kerawanan terhadap bencana banjir karena kondisi topografi yang relatif datar serta dipengaruhi oleh keberadaan Sungai Bengawan Solo dan sistem sungai di sekitarnya. Kejadian banjir yang berulang dipengaruhi oleh interaksi berbagai faktor fisik wilayah dan kondisi masyarakat. Oleh karena itu, diperlukan analisis spasial untuk mengetahui persebaran kerawanan banjir dan kesiapsiagaan masyarakat sebagai dasar dalam pengurangan risiko bencana. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) menganalisis persebaran spasial tingkat kerawanan banjir pada setiap kelurahan di Kecamatan Pasar Kliwon Kota Surakarta; (2) menganalisis tingkat kesiapsiagaan masyarakat terhadap bencana banjir; dan (3) menganalisis kesesuaian antara tingkat kerawanan banjir dengan kesiapsiagaan masyarakat pada setiap kelurahan. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kuantitatif dengan pendekatan analisis spasial berbasis Sistem Informasi Geografis (SIG). Analisis kerawanan banjir dilakukan menggunakan metode skoring dan weighted overlay dengan parameter kemiringan lereng, jenis tanah, penggunaan lahan, curah hujan, dan jarak terhadap sungai. Analisis kesiapsiagaan masyarakat menggunakan empat parameter berdasarkan LIPI–UNESCO/ISDR (2006), yaitu pengetahuan dan sikap, rencana tanggap darurat, sistem peringatan dini, serta kemampuan mobilisasi sumber daya. Hasil analisis menunjukkan bahwa tingkat kerawanan banjir di Kecamatan Pasar Kliwon didominasi oleh kategori sedang dengan luas 271,14 ha (55%), diikuti kategori rendah sebesar 161,74 ha (33%), dan kategori tinggi sebesar 56,21 ha (11%). Kerawanan tinggi terutama terkonsentrasi di Kelurahan Kedunglumbu, Sangkrah, dan Pasar Kliwon, yang dipengaruhi oleh kondisi topografi datar, penggunaan lahan permukiman, serta kedekatan dengan sungai. Hasil analisis kesiapsiagaan masyarakat menunjukkan adanya variasi antar kelurahan. Tingkat kesiapsiagaan tertinggi terdapat di Kelurahan Joyosuran sebesar 77,92% dengan kategori siap, sedangkan tingkat terendah terdapat di Kelurahan Kampung Baru dengan kategori belum siap. Analisis kesesuaian menunjukkan bahwa Kelurahan Mojo, Sangkrah, Joyosuran, Pasar Kliwon, dan Semanggi termasuk dalam kategori sesuai, Gajahan, Kedunglumbu, Kauman, dan Baluwarti termasuk kategori kurang sesuai, sedangkan Kampung Baru termasuk kategori tidak sesuai. Hasil penelitian menunjukkan bahwa analisis spasial dapat memberikan gambaran mengenai hubungan antara tingkat kerawanan banjir dan kesiapsiagaan masyarakat pada tingkat kelurahan. Informasi tersebut dapat menjadi dasar dalam menentukan prioritas pengurangan risiko bencana, terutama melalui peningkatan kesiapsiagaan pada wilayah yang memiliki tingkat kerawanan lebih tinggi.