Abstrak


STUDI FENOMENOLOGI: POST-TRAUMATIC GROWTH (PTG) PADA MAHASISWA BROKEN HOME FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SEBELAS MARET


Oleh :
Nabila Rahimma Nurmalita - K3122055 - Fak. KIP

Mahasiswa broken home yang berpotensi mengalami pengalaman traumatis dapat memengaruhi kondisi emosional dan psikologis. Akan tetapi pengalaman tersebut tidak selalu berakhir pada dampak negatif, karena sebagian individu dapat mengalami perubahan positif melalui proses menghadapi dan memaknai pengalaman traumatis sebagai Post-Traumatic Growth (PTG). Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengalaman Post-Traumatic Growth (PTG) pada mahasiswa broken home di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode fenomenologi transendental yang mengacu pada Moustakas. Partisipan penelitian terdiri atas tiga mahasiswa berlatar belakang broken home yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Data dikumpulkan melalui wawancara semi-terstruktur. Selanjutnya data divalidasi melalui member checking. Analisis data dilakukan melalui tahapan epoche (bracketing), phenomenological reduction yang meliputi horizontalization, reduction to invariant constituents, dan clustering of meanings, imaginative variation, deskripsi tekstural, deskripsi struktural, serta sintesis makna dan esensi pengalaman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengalaman broken home pada ketiga partisipan tidak secara otomatis menghasilkan PTG. Selain itu, ketiga partisipan juga memiliki kesamaan dalam peningkatan kekuatan pribadi, meskipun menunjukkan bentuk pertumbuhan positif yang berbeda pada aspek lainnya. Partisipan 1 menunjukkan pertumbuhan positif yang terutama terlihat melalui perubahan hubungan interpersonal serta orientasi kehidupan yang lebih positif. Partisipan 2 menunjukkan pertumbuhan positif melalui peningkatan kemandirian, perubahan orientasi terhadap kehidupan, serta tujuan dan pandangan masa depan yang lebih terarah. Partisipan 3 menunjukkan pertumbuhan positif melalui perubahan hubungan interpersonal dan empati, apresiasi terhadap kehidupan, serta perubahan nilai dan pandangan hidup. Implikasi penelitian ini menekankan pentingnya dukungan emosional dan ruang aman bagi mahasiswa dengan pengalaman traumatis. Orang tua dan dosen disarankan untuk memberikan dukungan emosional yang berkelanjutan serta menciptakan lingkungan yang aman dan suportif bagi mahasiswa. Peneliti selanjutnya disarankan mengkaji PTG pada konteks dan karakteristik partisipan yang lebih beragam.