Abstrak
Analisis Wacana Kritis dan Retorika Prabowo Subianto dalam Tuntutan 17+8 Jangka Pendek
Oleh :
Chasna Amaliya - D0221018 - Fak. ISIP
Retorika politik berfungsi
sebagai instrumen kekuasaan mendasar yang membentuk dan menjaga legitimasi
pemimpin dalam sistem demokrasi. Pada tahun pertama pemerintahannya, Presiden
Prabowo Subianto menghadapi krisis kepercayaan publik yang serius dengan data
survei nasional menunjukkan penilaian buruk masyarakat terhadap kinerja
pemerintah melonjak dari 5% menjadi 29% dalam satu tahun, serta 63% responden
menilai komunikasi kebijakan pemerintah sangat buruk. Krisis ini bereskalasi
menjadi gerakan "Tuntutan 17+8" pada Agustus-September 2025, sebuah
dokumen berisi 25 butir tuntutan reformasi yang diinisiasi bersama oleh tokoh
publik dan pemengaruh digital yang dengan cepat memobilisasi protes massa di
seluruh Indonesia. Penelitian secara spesifik menguji mengkaji konstruksi
wacana dan retorika Presiden Prabowo Subianto dalam merespons Tuntutan 17+8
melalui Analisis Wacana Kritis Norman Fairclough, dengan menggunakan 22 dokumen
meliputi pernyataan pers, rilis resmi, dan unggahan media sosial sejak 25 Agustus
hingga 9 September 2025. Temuan penelitian menunjukkan bahwa pada dimensi teks,
wacana dikonstruksi secara terpadu melalui diksi eufemistik (logos),
gestur ketenangan paternalistik (ethos), dan strategi fear appeal
(pathos) untuk mengaburkan kekerasan negara serta mendistorsi citra
demonstran. Pada dimensi praktik diskursif, produksi teks terkoordinasi melalui
segmentasi media sosial dan pengalihan tanggung jawab ke DPR berkonfrontasi
dengan konsumsi kritis publik sehingga membentuk diskursus hegemoni kekuasaan
dan stabilitas nasional. Terakhir, pada dimensi sosiokultural, respons
pemerintah yang bersifat tebang pilih, parsial, dan menormalisasi peran militer
justru memicu eskalasi skeptisisme publik, penguatan resistensi digital, serta
dekonstruksi legitimasi penguasa oleh masyarakat sipil yang menuntut reformasi
substantif.