Abstrak


STUDI KASUS: ANXIOUS ATTACHMENT PADA SISWI FATHERLESS DI SMP NEGERI 24 SURAKARTA


Oleh :
Shinta Dewi Diah Ayu Pitaloka - K3122076 - Fak. KIP

ABSTRAKShinta Dewi Diah Ayu Pitaloka. K3122076. Pembimbing Dr. Ulya Makhmudah,S.Pd., M.Pd. STUDI KASUS: ANXIOUS ATTACHMENT PADA SISWI FATHERLESS DI SMP NEGERI 24 SURAKARTA. Skripsi, Surakarta: Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Sebelas Maret, Juli 2026. Permasalahan fatherless berdampak signifikan pada proses tumbuh kembang individu sehingga perlu dikaji lebih mendalam. Dampak fatherless salah satunya adalah memicu anxious attachment pada individu. Penelitian ini bertujuan untuk 1) mengetahui bentuk perilaku, 2) menganalisis faktor penyebab munculnyadan 3) menganalisis dampak anxious attachment pada siswi fatherless. Pendekatan yang digunakan yaitu kualitatif dengan metode penelitian studi kasus. Subjek penelitian yaitu tiga siswi kelas VII SMP Negeri 24 Surakarta dengan latar belakang fatherless dan memiliki indikasi anxious attachment. Pemilihan subjek menggunakan teknik purposive sampling. Pengumpulan data melalui wawancara mendalam, observasi, dan studi dokumentasi. Validitas data diuji melalui triangulasi teknik. Analisis data menggunakan model analisis interaktif dengan tahapan reduksi data, penyajian data, dan verifikasi data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: 1) Bentuk perilaku pada Subjek I yaitu: ketergantungan emosional dengan sahabatnya dan selalu mengalah. Subjek II ketergantungan emosional dengan sahabatnya dan mencari validasi melalui media sosial. Subjek III ketergantungan emosional pada teman kelompoknya dan bersikap pasif untuk menghindari penolakan. 2) Faktor penyebab munculnya Subjek I yaitu: kehilangan peran ayah karena perceraian dan trauma melihat kekerasan dalam rumah tangga. Subjek II kehilangan peran ayah karena terpisah jarak dan berkomunikasi hanya seperlunya. Subjek III mengalami fatherless karena kurangnya komunikasi dan kehadiran emosional dari ayahnya meskipun satu rumah. 3) Dampak yang muncul pada Subjek I yaitu: motivasi belajar menurun, takut menambah teman baru dan memendam perasaan. Subjek II menimbulkan dampak yaitu meragukan kemampuan diri sendiri, enggan melakukan aktivitas di sekolah sendirian, sulit mengungkapkan kekecewaan secara asertif dan memilih silent treatment. Subjek III mengalami dampak yaitu malu jika menjadi pusat perhatian, tidak tertarik berinteraksi dengan teman kelas di luar teman kelompoknya, membujuk teman yang sedang badmood meskipun bukan karena kesalahannya. Saran untuk guru BKdapat menyusun asesmen kebutuhan kondisi keluarga di awal tahun ajaran, menyelenggarakan layanan bimbingan berfokus pada materi komunikasi asertif dan regulasi emosi, serta pelaksanaan konseling individu secara intensif untuk mengentaskan ketergantungan emosional siswa. Peneliti selanjutnya dapat melibatkan sahabat subjek dan ibu subjek guna memperkaya data penelitian sehingga data yang dikumpulkan lebih mendetail serta memfokuskan kajian pada salah satu aspek dampak anxious attachment secara lebih spesifik.Kata Kunci: Anxious Attachment, Siswi Fatherless, Studi Kasus