;

Abstrak


KESIAPAN GURU SEKOLAH DASAR DALAM MENERAPKAN PENDEKATAN DEEP LEARNING PADA PEMBELAJARAN IPAS: STUDI KASUS DI KECAMATAN SARADAN MADIUN


Oleh :
Neni Vila Prawardhani - S032508076 - Fak. KIP

Penelitian ini bertujuan menganalisis kesiapan guru sekolah dasar dalam menerapkan pendekatan deep learning pada pembelajaran IPAS di wilayah semiurban Kecamatan Saradan, Kabupaten Madiun. Secara khusus, penelitian ini memiliki tiga tujuan. Pertama, menganalisis pemahaman guru terhadap konsep dan prinsip pendekatan deep learning dalam pembelajaran IPAS. Kedua, mendeskripsikan kesiapan pedagogik guru dalam menerapkan pendekatan deep learning pada pembelajaran IPAS. Ketiga, mengidentifikasi faktor-faktor yang memengaruhi tingkat kesiapan guru dalam menerapkan pendekatan tersebut dalam konteks implementasi Kurikulum Merdeka. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan rancangan studi multi-kasus pada tiga sekolah dasar negeri yang dipilih secara purposif melalui maximum variation sampling, yaitu SDN Pajaran 04 (unggulan), SDN Pajaran 05 (menengah), dan SDN Pajaran 01 (tertinggal). Partisipan penelitian berjumlah sembilan guru kelas tinggi, yaitu tiga guru pada setiap sekolah. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi pembelajaran, focus group discussion, dan analisis dokumen. Data dianalisis secara dalam-kasus dan lintas-kasus melalui tahapan kondensasi data, penyajian data, dan penarikan simpulan. Keabsahan data dijaga melalui triangulasi sumber dan metode serta penerapan kriteria trustworthiness. Hasil penelitian menunjukkan tiga temuan utama. Pertama, pemahaman guru terhadap konsep dan prinsip deep learning bersifat bergradasi sesuai tipologi sekolah, yaitu komprehensif di sekolah unggulan, variatif di sekolah menengah, dan masih dasar di sekolah tertinggal, meskipun seluruh guru sepakat bahwa pendekatan ini menekankan pemahaman mendalam, bukan hafalan. Kedua, kesiapan pedagogik guru terpola ke dalam tiga tipologi praktik, yaitu transformatif, transisional, dan konvensional, dengan guru relatif paling siap pada dimensi pengaktifan kognitif dan pembelajaran berpusat pada peserta didik, tetapi masih lemah pada praktik refleksi dan penilaian autentik. Ketiga, kesiapan guru ditentukan oleh interaksi faktor personal, institusional, dan eksternal, dengan mediasi institusional, khususnya kepemimpinan kepala sekolah dan komunitas belajar, sebagai penentu utama, sementara akses pelatihan profesional menjadi variabel pembeda paling tajam antarsekolah. Disimpulkan bahwa kesiapan guru bersifat multidimensional dan kontekstual sehingga penguatannya di wilayah semiurban memerlukan intervensi multilevel dan pendampingan profesional yang berkelanjutan.