Abstrak
MODEL TUBERCULOSIS HEALTH YOUTH AMBASSADOR (THYA) DALAM PENINGKATAN TUBERCULOSIS AWARENESSDI KABUPATEN GROBOGAN
Oleh :
Anita Lufianti - T512008002 - Fak. Kedokteran
Background: Tuberkulosis (TB) masih menjadi masalah kesehatan
masyarakat yang memerlukan penguatan upaya promotif dan preventif berbasis
komunitas. Di Kabupaten Grobogan, peningkatan TB awareness menghadapi berbagai
kendala, antara lain kesenjangan literasi kesehatan TB, stigma terhadap TB,
keterbatasan tenaga edukator berbasis komunitas, keterbatasan materi edukasi
yang sesuai dengan konteks lokal, serta belum optimalnya keterlibatan kelompok
muda dalam promosi kesehatan. Mahasiswa kesehatan memiliki potensi untuk
dilibatkan sebagai agen perubahan melalui pendekatan Tuberculosis Health Youth
Ambassador (THYA).Tujuan: Mengembangkan model Tuberculosis Health Youth Ambassador (THYA) dalam
peningkatan Tuberculosis Awareness pada masyarakat di Kabupaten Grobogan,
mengidentifikasi kebutuhan literasi kesehatan TB dan peran potensial mahasiswa
kesehatan, mengidentifikasi hambatan peningkatan TB awareness, serta
mengembangkan dan menguji kelayakan modul pelatihan THYA.Metode: Penelitian menggunakan desain kualitatif eksploratif dalam kerangka
penelitian pengembangan model. Penelitian dilaksanakan di wilayah kerja Dinas
Kesehatan Kabupaten Grobogan pada enam puskesmas selama Juli–September 2024.
Sebanyak 18 partisipan dipilih secara purposive sampling, yang melibatkan mahasiswa
kesehatan, pemangku kebijakan, kader kesehatan, dan masyarakat. Data
dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi, dan focus group discussion
(FGD), kemudian dianalisis secara kualitatif. Pengembangan model dilakukan
melalui identifikasi masalah dan kebutuhan, studi literatur, konsultasi pakar,
pengembangan model dan modul, serta uji kelayakan. Feasibility study melibatkan
10 subjek yang terdiri atas 2 pakar dan 8 praktisi, sedangkan uji fungsional
melibatkan 9 partisipan yang terdiri atas mahasiswa, kader, dan masyarakat.
Penilaian produk menggunakan instrumen validasi dan dianalisis dengan grand
mean.Hasil: Hasil identifikasi menunjukkan bahwa literasi kesehatan TB di
masyarakat masih belum memadai, terutama terkait gejala, penularan, pengobatan,
dan pencegahan TB. Hambatan peningkatan TB awareness meliputi stigma sosial,
keterbatasan edukator komunitas, keterbatasan media edukasi yang kontekstual,
keterbatasan pembiayaan promosi kesehatan, serta belum optimalnya keterlibatan
remaja dan kelompok muda. Hasil FGD menunjukkan kebutuhan terhadap pendekatan
edukasi yang lebih komunikatif, partisipatif, kreatif, dan sesuai dengan
karakteristik masyarakat. Model THYA dikembangkan dengan melibatkan mahasiswa
kesehatan sebagai duta remaja TB dan menghasilkan dua modul edukasi, yaitu
modul TB untuk duta remaja TB dan modul TB untuk masyarakat. Hasil validasi
menunjukkan bahwa modul TB untuk duta remaja memperoleh nilai grand mean
kelayakan sebesar 92,7%, sedangkan kepraktisan modul TB untuk masyarakat sebesar
93,7% dan termasuk kategori sangat valid. Uji fungsional menunjukkan bahwa
produk dapat dipahami, diterima, dan digunakan oleh sasaran.Kesimpulan: Model THYA merupakan model edukasi berbasis pemberdayaan
mahasiswa kesehatan yang dikembangkan sesuai kebutuhan dan konteks lokal
Kabupaten Grobogan. Model ini didukung oleh dua modul edukasi yang memiliki
tingkat kelayakan dan kepraktisan yang baik serta dapat digunakan sebagai dasar
pelaksanaan edukasi TB berbasis komunitas. Namun, efektivitas Model THYA dalam
meningkatkan TB awareness pada masyarakat belum dapat disimpulkan karena
penelitian belum mencakup implementasi dan evaluasi intervensi secara langsung
di tingkat komunitas.
Kata kunci: Tuberkulosis; Tuberculosis Awareness; Tuberculosis Health Youth Ambassador;
mahasiswa kesehatan