Abstrak


SISTEM MOOD KLAUSA BAHASA JAWA DIALEK BANYUMASAN


Oleh :
Khristianto - T111908008 - Fak. Ilmu Budaya

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan sistem MOOD, struktur Mood, dan makna Mood dalam bahasa Jawa dialek Banyumasan (JDB) berdasarkan kerangka Linguistik Sistemik Fungsional (LSF) yang dikembangkan oleh Halliday. Kajian ini dilatarbelakangi oleh minimnya penelitian tentang sistem interpersonal dalam dialek-dialek bahasa Jawa, terutama dialek Banyumasan yang memiliki kekhasan leksikal dan struktur tutur tersendiri. Penelitian ini berfokus pada realisasi makna interpersonal melalui tiga tipe mood utama—deklaratif, interogatif, dan imperatif—serta bagaimana makna-makna tersebut diwujudkan dalam tuturan sehari-hari penutur JDB. Penelitian ini menggunakan paradigma kualitatif dengan rancangan studi kasus tunggal terpancang. Sumber data berupa teks tulis yang memuat dialog berbahasa JDB, yang diambil dari novel Ronggeng Dukuh Paruk, novel Nini Rikem dan Kaki Tupon, kumpulan cerita pendek (cerita cekak) dari majalah Ancas, serta rubrik humor berbahasa Banyumasan di surat kabar. Pengumpulan data dilakukan melalui analisis isi dengan teknik simak-catat pada klausa-klausa dialog yang merepresentasikan tiga tipe mood. Data kemudian dianalisis secara sistemik dengan mengidentifikasi elemen Mood (Subjek, Finite/Modal/Polaritas), Kata Tanya, dan struktur klausa, serta mengklasifikasikan makna interpersonal yang direalisasikan. Validitas data diperoleh melalui triangulasi sumber dan Focus Group Discussion (FGD) dengan penutur asli dan pakar linguistik Jawa. Hasil penelitian menunjukkan tiga temuan utama. Pertama, sistem MOOD dalam JDB terdiri atas tiga tipe mood: deklaratif, interogatif, dan imperatif. Kuantifikasi data menunjukkan bahwa deklaratif sangat mendominasi, disusul interogatif, yang tidak terlalu berbeda dengan imperatif. Dominasi deklaratif tersebut sejalan dengan jenis sumber data yang berupa teks naratif. Dalam teks naratif, fungsi utama bahasa adalah menyampaikan informasi, menceritakan peristiwa, dan menggambarkan keadaan. Deklaratif dan interogatif direalisasikan dengan kehadiran Subjek dan elemen Modal/Polaritas, sementara imperatif dapat hadir tanpa Subjek namun tetap mempertahankan Predikat sebagai unsur inti. Kedua, struktur Mood JDB tidak terikat secara kaku pada urutan elemen fungsional. Berbeda dengan bahasa Inggris yang mengandalkan urutan Subjek Finite untuk membedakan deklaratif dan interogatif, JDB menggunakan unsur leksikal—seperti kata tanya, partikel apa, mbok, deneng, atau modal bisa (bisane) —sebagai penanda utama tipe mood. Kata tanya dalam interogatif JDB dapat ditempatkan di awal maupun akhir klausa tanpa mengubah fungsi interogatifnya. Ketiga, makna Mood JDB terbagi ke dalam dua kategori utama berdasarkan tipe transaksi (memberi/meminta) dan komoditas (informasi/barang & jasa). Dalam transaksi memberi, komoditas informasi mencakup pernyataan, alasan, penegasan, dan tuduhan; sementara dalam transaksi meminta, informasi mencakup konfirmasi, viii informasi, saran, dan alasan. Untuk komoditas barang/jasa (proposal), transaksi memberi mencakup penawaran, keputusan, izin, barang, janji, bantuan, dan arahan (yang mencakup larangan, nasihat, umpatan, pujian, sindiran, ejekan, dan protes). Sementara transaksi meminta barang/jasa mencakup izin, tindakan, tindakan bersama, jasa, dan barang. Temuan ini memiliki implikasi penting bagi pengembangan teori SFL, terutama dalam konteks bahasa-bahasa dengan sistem kesantunan kompleks dan urutan kata yang relatif longgar. Penelitian ini menunjukkan bahwa sistem mood tidak harus bergantung pada urutan struktural, tetapi dapat diwujudkan melalui unsur-unsur leksikal yang sarat makna interpersonal. Secara praktis, hasil kajian ini dapat dimanfaatkan untuk pengembangan bahan ajar bahasa Jawa berbasis fungsi tutur kontekstual, serta sebagai dasar dokumentasi linguistik untuk pelestarian dialek Banyumasan yang kian terancam pergeseran. Penelitian lanjutan disarankan untuk memperluas cakupan data pada tuturan lisan spontan dan melakukan kajian komparatif lintas dialek bahasa Jawa.